Tolak Bandara Kulon Progo, Polisi Tangkap Belasan Aktivis

"Tadi ada diseret segala macem, hampir semua yang ditangkap itu diseret"

Selasa, 05 Des 2017 19:30 WIB

Polisi mengawasi pengosongan lahan untuk pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, DI Yogyakarta, Senin (4/12). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kepolisian Kulon Progo menangkap belasan aktivis penolak proyek Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, Yogyakarta. Wakapolres Kulon Progo  Dedi Suryadharma beralasan penangkapan lantaran mereka memprovokasi warga sekitar.

Menurut Dedi, orang-orang tersebut juga menghalang-halangi petugas saat hendak mengosongkan lahan.

"Kami amankan ada sekitar tiga atau empat orang yang mengaku mahasiswa," jelas Dedi di Kulon Progo , Selasa (5/12).

"Mereka ngakunya dari Yogyakarta. Jadi ingin memprovokasi warga agar tidak mau diungsikan dan dikonsinyasi oleh Angkasa Pura," lanjutnya.

Dedi juga menuding   belasan orang itu berdiam di Kecamatan Temon, Kulon Progo  tanpa izin perangkat desa setempat.

"Karena kan ini ilegal, mereka tidak ada pemberitahuan ke polres atau perangkat desa. Jadi ilegal."

Menurut Dedi, sebagian yang ditangkap mengaku berasal dari Yogyakarta. Penangkapan kata dia untuk memastikan identitas masing-masing orang.

"Kami cek dulu, kami kroscek nanti apakah mereka mahasiswa atau bukan. Kalau memang iya, nanti kami sampaikan ke kampusnya. Kami cek dulu di Polres, agar kami tahu mereka ini siapa, apakah dari orang yang sengaja memprovokasi atau bagaimana," pungkasnya.

Proses pengosongan lahan oleh PT Angkasa Pura I berlangsung sejak 27 November 2017 hingga sepekan.

Kelanjutan proyek pembangunan Bandara Kulon Progo, Yogyakarta ini mengakibatkan warga menerima intimidasi saat proses penggusuran. Salah satu korban sekaligus anggota Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) Wijiyanto menuturkan, aparat gabungan polisi, TNI dan Satpol PP membatasi akses warga di Desa Palihan, Kulon Progo.

Wijiyanto  mengungkapkan, ada pula pencopotan paksa pintu dan jendela rumah warga oleh aparat. Lantas di tengah pengosongan lahan, juga dilakukan pemutusan listrik terhadap rumah warga di sekitar proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulon Progo.

Bentuk intimidasi ini, menurut Wijiyanto, memperkuat penolakan warga. Karena cara-cara memuluskan proyek tersebut bukan saja melanggar hukum, melainkan juga merampas hak masyarakat di sekitar kawasan.

Polisi Serang Posko Solidaritas Mahasiswa

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  UIN Sunan Kalijaga  Rhetor menuding polisi melakukan kekerasan saat melakukan pengosongan rumah warga yang terkena penggusuran lahan bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) pada Selasa, (05/12/2017). Ahmad Hedar  anggota Rhetor mengatakan aparat menyeret paksa beberapa mahasiswa dan warga yang melakukan penjagaan di rumah-rumah dan posko solidaritas.

Menurut Hedar,  polisi beralasan mereka tidak memiliki izin resmi dari aparat desa dan kepolisian untuk mengadakan aksi solidaritas.

"Iya ada statement dari Angkasa Pura, bahwa rumah warga yang menolak itu tidak akan digusur atau tidak akan diratakan akhirnya teman-teman akhirnya sebagian besar kembali ke masing-masing.  Saat kondisi saat itu-tiba-tiba cuma tinggal sedikitkan di Kulon Progo, tadi pagi abis temen-temen pulang dari rumah-rumah warga yang dijaga itu sampai masjid, poskonya diserang sama kepolisian alasanya ada tiga, yang pertama temen-temen dianggap ilegal karena tidak bawa identitas, bukan warga asli sana, kemudian tidak izin ke pemerintah desa," ujar Hedar, saat dihubungi KBR, selasa (05/12/2017).

Ia juga membenarkan ada 11 mahasiswa yang ditangkap aparat, dan 2 warga pada hari ini. Menurut dia  tidak kekerasan  polisi mengakibatkan 2 orang  luka akibat diseret.

"Tadi ada diseret segala macem, hampir semua yang ditangkap itu diseret, karena temen-temen terkonsentrasi di posko. (polisi yang melakukan berapa banyak?) Ada ratusan lah, tapi yang melakukan penyeretan mungkin puluhan. Ini kita juga sedang memproses untuk mengeluarkan teman-teman yang ditangkap" ujar Hedar.

Baca juga:


Sebelumnya   warga Temon di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta tetap berkeras akan mendiami lahan. Mereka menolak upaya penggusuran yang dilakukan PT Angkasa Pura untuk kepentingan pembangunan Bandar Udara New Yogyakarta International Airport (NYIA). 

Salah satu perwakilan warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP), Wijiyanto mengatakan eksekusi lahan sudah dilakukan petugas gabungan yang dikerahkan PT Angkasa Pura sejak Senin, 4 Desember 2017 pukul 10.00 WIB di wilayah Paliaman. Lokasinya berjarak satu kilometer dari Temon.

"Ini sudah masuk wilayah Palian. Warga yang menolak tetap berjaga di beberapa titik dan berusaha menghalangi aparat yang akan menggusur lahannya. Intinya warga tidak mau digusur," kata Wijiyanto kepada KBR, Senin (4/12/2017).

Wijiyanto mengatakan di lokasi yang akan digusur terlihat ada enam alat berat sudah disiapkan sejak Minggu kemarin. Beberapa tiang pancang juga telah dipasang di tempat yang sama. Eksekusi tersebut dilakukan berdasarkan putusan hukum proses konsinyasi di Pengadilan Negeri (PN) Wates.


Baca juga:

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur