KNPB: Peringatan HUT OPM Diwarnai Penangkapan dan Intimidasi

KNPB menyebut polisi Papua menangkap 25 orang, yaitu 22 orang di Merauke dan tiga orang di Sorong. Saat ini KNPB masih mengkonfirmasi kabar adanya penangkapan peserta aksi di daerah lain.

Jumat, 01 Des 2017 16:29 WIB

Massa menggelar aksi peringatan deklarasi kemerdekaan Papua di depan gedung LBH Jakarta, Jumat (1/12/2017). (Foto: KBR/Winna Wijaya)

KBR, Jakarta - Berbagai kelompok masyarakat menggelar aksi untuk memperingati Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat atau ada juga yang menyebut peringatan ulang tahun Organisasi Papua Merdeka, pada 1 Desember 2017. 

Aksi di gelar di berbagai tempat baik di Jakarta maupun di Papua. Namun, kelompok Komite Naisonal Papua Barat (KNPB) mengklaim aksi peringatan hari ini diwarnai penangkapan dan intimidasi.

Sekretaris KNPB Ones Nesta Suhaniap mengatakan di Papua polisi menangkap 25 orang, yaitu 22 orang di Merauke dan tiga orang di Sorong. Saat ini KNPB masih mengkonfirmasi kabar adanya penangkapan peserta aksi di daerah lain.

"Kondisinya di beberapa wilayah ada penangkapan yang dilakukan oleh Kepolisian. Di beberapa wilayah yang aparat melarang kegiatan syukuran. Ada teror dan intimidasi dilakukan. Alasannya NKRI harga mati, bukan hal baru," kata Nesta kepada KBR, Jumat (1/12/2017).

Ones Nesta mengatakan, kegiatan inti peringatan HUT OPM di Sekretariat KNPB Pusat, Jayapura, telah selesai dilaksanakan. Peringatan diikuti ratusan orang dengan diisi kegiatan ibadah, mimbar bebas, pemotongan kue ulang tahun dan lainnya.

"Perayaan kali ini menujukan orang Papua tidak pernah melupakan sejarah masa lalu. Untuk meluruskan sejarahnya, rakyat Papua akan terus berjuang," kata Ones Nesta.

Meski demikian, kata Nesta, selama kegiatan berlangsung Sekretariat KNPB dikelilingi aparat Kepolisian dan TNI. Bahkan, kata Ones, ada banyak warga yang dihalang-halangi untuk mengikuti peringatan HUT OPM di dalam sekretariat.

"Sejak kemarin ada peningkatan pengamanan di Papua," kata Nesta.

Baca juga:

Aksi di Jakarta


Di Jakarta, aksi peringatan digelar di depan kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Aksi melibatkan sekitar 280-an orang elemen Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia (FRI-West Papua).

Ratusan orang yang mengikuti aksi itu datang dari Semarang, Solo, Salatiga, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Bandung, Tangerang, Bogor dan Jakarta. 

Massa mengenakan pengikat kepala berwarna putih dengan gambar sablon bendera Bintang Kejora. Beberapa diantaranya menyangga bendera hitam AMP dan bendera putih FRI-West Papua. 

Massa juga membawa poster, diantaranya bertuliskan "Tarik Militer Organik dan Non-organik dari Tanah Papua", "Tutup Freeport dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Bangsa West-Papua", dan lain-lain.

Aksi di depan LBH Jakarta dimulai dari pukul 07.00 WIB. Semula massa berniat melakukan jalan kaki (long march) menuju kantor PT Freeport Indonesia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. 

Namun, ketika massa bergerak dari gedung LBH Jakarta menuju arah Menteng, polisi memblokir peserta aksi tepat di depan Halte Megaria. 

Selama pemblokiran arus massa, massa meneriakkan yel-yel "Papua Merdeka", "Papua Freedom" sembari diiringi lagu perjuangan Papua Barat, "Saya bukan merah putih, saya bintang kejora...."

Mendekati waktu salat Jumat, Juru bicara FRI-West Papua Surya Anta memberi instruksi agar massa mempersingkat waktu. Pukul 10.18 WIB mulai dibacakan pernyataan sikap oleh Surya Anta dan Sekjend AMP Adhen. Usai pembacaan, secara simbolik beberapa perwakilan massa aksi menyerahkan bunga sebagai lambang perdamaian kepada perwakilan dari Kepolisian. 

"Selain karena hari libur, juga karena dilarang pakai lambang bintang kejora, dan kami dianggap belum kirim surat izin ke polisi. Padahal sudah," kata Juru bicara Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Adhen Dimi menjelaskan mengenai pemblokiran aksi jalan kaki ke kawasan Kuningan.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Pemerintah Godok Opsi Format Pencantuman Agama Kepercayaan Di KTP

  • PLN Siap Jalani Putusan MK Soal Aturan Nikah Teman Sekantor
  • Polisi Banyuwangi Perketat Keamanan Objek Vital
  • Statistik Opta: Rooney Masih Garang Cetak Peluang Menjadi Gol

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi