Kabag Mitra Ropenmas Divhumas Mabes Polri, Kombes Pol Awi Setiyono (kiri) didampingi Analis Kebijakan Polisi menunjukkan foto bom panci saat memberikan keterangan terkait penemuan bom Bekasi di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (11/12). Foto: Antara

KBR, Jakarta- Pengamat teroris Al Chaidar menyebut ada peningkatan kekuatan pengikut Bahrun Naim di Indonesia. Hal ini terlihat dari serangkaian aksi teror yang dilakukan kelompok tersebut. Selain itu, target kelompok ini juga semakin berani yakni wilayah ring satu dengan bom daya ledak tinggi.

"Ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ini kelompok yang mengejutkan. Saya pikir mereka tidak bisa membuat bom dengan daya ledak tinggi, mereka juga langsung menargetkan Istana, ketiga mereka juga memutuskan memilih perempuan untuk eksekutor bunuh diri, ini belum terjadi sebelumnya dalam peta pergerakan teroris," jelas Al Chaidar saat dihubungi KBR, Minggu (11/12).

Al Chaidar menambahkan ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuatan kelompok Bahrun Naim yang merupakan tokoh ISIS di Asia Tenggara tersebut, meningkat. Salah satunya kondisi sosial politik di dunia maupun di Indoensia. Menurutnya, era Jokowi dinilai tidak pro Islam dan Islam di dunia juga dipinggirkan.

"Setting faktor sosial politik global, nasional, ekonomi. Karena itulah mereka memilih jalan ke ISIS. Kalau sisi global, Islam itu diperlakukan tidak adil, mereka sering dibantai di mana-mana, negara muslim sering dikacaukan oleh negara barat, dengan membawa demokrasi. Sementara setting sosial politik dalam negeri yang dibawah jokowi memperlihatkan tidak ramah kepada islam," ungkapnya.

Dia memperkirakan saat ini sudah ada tiga  jutaan simpatisan ISIS. Sementara pasukan militernya diperkirakan mencapai 600an. Dua persennya berada di Indonesia. Kelompok ini makin bertambah di wilayah Indonesia Barat.

"Eskalasi akan meningkat. Jumlah mereka 2 jutaan simpatisan ISIS,  menjadi tiga jutaan sekarang. Jumlah pasukan militer 200 orang, meningkat 600an. Kalau Pew Research Center, hasil survei mereka, di Indonesia itu ada dua persen pendukung atau simpati terhadap ISIS," ujarnya.

Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri menangkap tiga terduga teroris di sebuah rumah kos-kosan yang berada di Bintara VIII, Bintara Jaya, Bekasi Barat, Sabtu (10/12). Ketiga terduga teroris itu terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya,  Argo Yuwono menjelaskan, bom seberat 3 kilogram yang ditemukan di rumah kos-kosan kamar 104 itu memiliki daya ledak yang tinggi. Jika diledakkan, lanjutnya, bisa menghancurkan bangunan dalam radius 300 meter.

Rencananya, kata Argo, bom yang diletakan di dalam panci tekan ini akan diledakan di obyek vital pemerintah yang berada di Jakarta Pusat pada Minggu pagi. Mereka merupakan jaringan Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) yang berhubungan dengan Bahrun Naim yang telah berbaiat kepada Negara Islam (ISIS). Bahrun Naim kini berada di Suriah.

Dalam kasus ini, selain menangkap tiga terduga teroris yang berada di Bintara Jaya, Tim Densus juga telah menangkap satu orang terduga teroris di Solo, Jawa Tengah. Menurut Argo, penangkapan ini merupakan pendalaman dari penangkapan sebelumnya.

Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!