Pabrik Semen Rembang Serap Bahan Baku Pertambangan Rakyat

Produksi pabrik PT. Semen Indonesia berkapasitas 3 juta ton. Pada tahun depan, kapasitas produksinya diperkirakan bisa mencapai 50 persen atau sekitar 1,5-2 juta ton

Kamis, 29 Des 2016 16:42 WIB

Kawasan perbukitan karts di Pegunungan Kendeng. Foto: AW


KBR, Jakarta - Direktur Utama PT. Semen Indonesia, Rizkan Chandra menyatakan bakal tetap memproduksi semen di Rembang, Jawa Tengah meski izin lingkungan kegiatan pertambangannya dibatalkan Mahkamah Agung (MA) pada Oktober lalu. Perusahaan BUMN ini akan mendapatkan bahan baku dengan menyerap produksi pertambangan rakyat yang berlokasi di sekitar pabrik. Saat ini, jelasnya, pabrik tengah berlangsung uji coba produksi semen.

"Kita ikuti putusan MA. Keputusannya MA apa? Pencabutan izin lingkungan untuk pertambangan. Jadi pabriknya tidak ada pencabutan. Sekarang pun boleh jalan, enggak ada yang larang. Fire on sudah dimulai dari November akhir. Sekarang lagi percobaan produski. Tetapi bukan menambang, karena izinnya dicabut. Tunggu izin baru atau menambangnya bisa beli dari sebelah. Kan yang di sebelah enggak dilarang. Banyak dari rakyat. (Dari perusahaan lain?) rari rakyat," tegas Rizkan di kantor Kementerian BUMN, Kamis (29/12/16).

Rizkan menjelaskan, produksi semen dengan menyerap bahan baku dari pertambangan rakyat tidak terlalu merugikan. Apalagi, model perdagangan semacam itu hanya bersifat sementara, karena saat ini perusahaannya masih berupaya mendapatkan kembali izin lingkungan pertambangan dari pemerintah. Meski, menurutnya, bahan baku produksi semen dapat terpenuhi dari tambang-tambang kecil milik rakyat yang diperkirakan luasnya mencapai 1000 hektare.

Produksi pabrik semen di Rembang ini akan berkapasitas hingga 3 juta ton. Adapun pada tahun pertama 2017, Rizkan memperkirakan produksinya baru 50 persen dari kapasitas atau 1,5 hingga 2 juta ton. Nilai itu diperkirakan akan menjadi 100 persen pada tahun kedua produksi. Sedangkan secara nasional, produksi semen PT. Semen Indonesia akan mencapai 36 juta ton pada tahun depan. Menurut Rizkan Chandra, target itu lebih tinggi dibanding realisasi produksi sepanjang tahun ini.

"Produksi tahun ini 27 juta koma sekian, hampir 28 juta ton. (Kalau penjualan?) Volume untuk industri itu turun. Sampai November, minus 0,3 persen. Tetapi Semen Indonesia naik 2 persen. Full year diperkirakan naiknya 1,4 persen. Tahun depan, garapannya sudah lebih baik. (Proyeksi tahun depan?) 1 persen di bawah GDP," jelasnya. 

Pada tahun ini, Rizkan menambahkan, tantangan terberat penjualan semen terletak pada sektor retail (eceran) yang masih lesu. Meski begitu, konsumsi semen justru terdorong oleh sektor infrastruktur yang tumbuh pesat. Sedangkan untuk tahun depan, pendapatan PT Semen Indonesia diproyeksikan tidak hanya berasal dari produksi semen. Sebab perusahaan ini sudah menjalankan beberapa aksi korporasi, yakni dengan merambah ke produksi material bangunan lainnya, seperti beton dan keramik, melalui akuisisi. Sehingga, kata Rizkan, saat terjadi penurunan konsumsi semen domestik, profit perusahannya akan terbantu oleh portofolio lainnya.  (dmr)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi

Jokowi Tanggapi Komentar Prabowo Soal Ambang Batas 20 Persen

  • Dampak Kenaikan Gaji Tak Kena Pajak Mulai Dorong Konsumsi Masyarakat
  • Pemerintah Dinaikkan Harga Pokok Beras
  • Pemkab Bondowoso Bayar Wartawan Minimal Rp200 Ribu per Berita

Fasilitas KITE IKM diharapkan menjadi jawaban untuk mendorong industri kecil dan menengah untuk terus bergeliat meningkatkan ekspor di tanah air.