Kepolisian Siapkan Antisipasi Serangan Teror Perayaan Natal

"Sebetulnya ada sekitar 6-7 kelompok yang pro-ISIS yang semuanya ingin melakukan amaliyah atau aksi jihad, dan semua cari kesempatan,"

Senin, 19 Des 2016 20:55 WIB

Sejumlah umat Nasrani mengikuti Ibadah Perayaan Natal di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Rabu (14/12). (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Mabes Polri menyatakan menyiapkan antisipasi metode serangan teror baru menjelang Natal dan tahun baru 2017. Juru Bicara Mabes Polri, Rikwanto, menyatakan Kepolisian bersiap menghadapi cara baru seperti menggunakan pengantin bom perempuan atau melakukan penusukan.

Kata dia, saat ini terus mengawasi gerak-gerik kelompok-kelompok yang dicurigai akan melancarkan serangan.

"Kadang pake panah, pakai bom seperti bom ikan, kadang penusukan pakai pisau, yang mana saja itu bisa mereka lakukan," ungkapnya kepada KBR, Senin (19/12/2016) malam.

"Sebelum itu terjadi, kita deteksi terus. Mudah-mudahan gerakan mereka bisa kita ketahui, dan kita cegah sebelum mereka beraksi," terangnya.

Rikwanto menambahkan, penangkapan sejumlah terduga teroris akhir-akhir ini juga memiliki kaitan dengan pengamanan Natal dan tahun baru. Kata dia, sudah jadi ciri pelaku teror untuk memanfaatkan hari besar. Sebab dengan demikian aksi mereka bisa mendapat perhatian lebih luas.

"Patut diduga mereka akan memanfaatkan momen Natal dan tahun baru," tambahnya.

Kata dia, kelompok-kelompok yang diawasi ini tersebar mulai dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Jawa, dan Sumatera hingga Aceh. Dia menjelaskan, pengawasan kelompok teror dilakukan di tingkat Polda. Sementara Mabes Polri akan mengawasi kelompok yang mobilitasnya tinggi. Semua kelompok akan diawasi secara ketat.

"Jangan sampai dan kita kecolongan nantinya," ujarnya lagi.

ISIS

Pengamat terorisme Sidney Jones meminta kepolisian fokus mengawasi kelompok pro-ISIS jelang Natal dan tahun baru. Sebab, kata dia, kelompok-kelompok ini secara terus menerus menyerukan pengikutnya untuk melancarkan aksi. Salah satunya adalah kelompok Bahrun Naim.

"Sebetulnya ada sekitar 6-7 kelompok yang pro-ISIS yang semuanya ingin melakukan amaliyah atau aksi jihad, dan semua cari kesempatan," terangnya kepada KBR, Senin (19/12/2016) malam.

"Jadi saya kira kita harus lihat bahwa ancaman bukan saja dari kelompok Bahrun Naim, tapi ada kelompok lain juga," tambahnya.

Sidney menambahkan, kelompok-kelompok ini terus mengimbau pengikutnya lewat media sosial. Mereka didorong untuk melakukan pemboman atau serangan dengan penusukan atau lain sebagainya. Sehingga, kata dia, sulit sekali tugas polisi untuk mencegah serangan seperti itu.

"Saya kira lambat laun pasti akan ada sesuatu yang akan lolos dari penjagaan mereka," tambahnya.   

Namun, berdasarkan catatannya, kepolisian selalu berhasil mengamankan Natal dan tahun baru. Kejadian terakhir adalah bom Natal pada 16 tahun lalu. Serangkaian serangan bom terjadi di berbagai daerah di antaranya di   Gereja Eben Haezer Mojokerto, Jawa Timur, tahun 2000 silam. Dalam kejadian itu, Anggota Banser NU Riyanto tewas setelah mencegah ledakan dengan memeluk bom itu.


Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

HNW Sarankan Masyarakat Gugat UU Pemilu ke MK

  • Diskusi Karya Enny Arrow di Semarang Dilarang Polda Jateng
  • Persiba Dukung Wasit Asing di Liga 1
  • Rafinha Berambisi Jadi Suksesor Lahm

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.