Jokowi: Tindak Tegas Media Online Penyebar Kebencian

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang masyarakatnya aktif menggunakan media sosial.

Kamis, 29 Des 2016 15:22 WIB

Presiden Joko Widodo. Foto: Antara

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada kementerian dan lembaga untuk mengevaluasi media online yang menyebarkan kebencian serta berita-berita bohong tanpa berlandaskan sumber yang jelas. Kata dia, seharusnya media online dijadikan sarana untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi demi menunjang kesejahteraan masyarakat serta menjalin persatuan bangsa.

Pasalnya, menurut Jokowi, Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang masyarakatnya aktif menggunakan media sosial.

"Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini banyak berseliweran informasi yang meresahkan, mengadu domba, yang memecah belah. Muncul ujaran-ujaran kebencian, pernyataan-pernyataan yang kasar, yang mengandung fitnah, yang provokatif, dan kalau kita lihat bahasa-bahasa yang dpakai juga bahasa-bahasa yang misalnya bunuh, bantai, gantung, sekali lagi ini bukan budaya kita, bukan kepribadian kita, dan oleh sebab itu jangan sampai kita habis energi untuk hal-hal seperti ini dan saya minta penegakan hukum harus tegas dan keras untuk hal ini. Dan kita harus evaluasi media-media online yang memproduksi berita-berita bohong tanpa sumber yang jelas, dengan judul yang provokatoif, mengandung fitnah," kata Jokowi di Kantor Presiden, Istana Negara, Jakarta.

Menurut Jokowi, lebih dari 50 persen atau sekira 132 jutaan penduduk Indonesia adalah pengguna internet aktif. Angka tersebut kata dia, jika dioptimalkan dengan baik akan menjadi kekuatan bagi Indonesia, seperti kemajuan ekonomi.

"Dari jumlah pengguna internet tersebut ada sekitar 129 juta yang memiliki akun media sosial yang aktif. 129 juta ini aktif di media sosial. Dan yang menarik rata-rata menghabiskan waktu rata-rata 3,5 jam per hari untuk konsumsi internet melalui handphone. Oleh sebab itu, perkembangan teknologi yang sangat pesat itu harus betul-betul kita arahkan, manfaatkan ke arah yang positif, ke arah untuk kemajuan bangsa kita. Untuk menambah pengetahuan, menambah wawasan, menyebarkan nilai-nilai positif, nilai-nilai optimisme, nilai-nilai kerja keras, integritas, kejujuran, nilai-nilai toleransi dan perdamaian, solidaritas, dan nilai-nilai kebangsaan," ucapnya.

Presiden Jokowi juga menginstruksikan kepada jajarannya untuk melakukan gerakan pembelajaran yang menyeluruh dalam penggunaan media sosial yang santun dan beretika. Dengan begitu kata dia, akan ada perubahan positif yang signifikan bagi pengguna media sosial di Indonesia.

"Saya juga minta gerakan yang masif untuk melakukan literasi, edukasi, dan menjaga etika, keadaban kita dalam bermedia sosial. Gerakan ini penting untuk mengajak netizen mengampanyekan bagaimana berkomunikasi melalui media sosial yang baik, yang beretika, yang positif, yang produktif, yang berbasis nilai-nilai budaya kita," ucapnya.

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR untuk Tentukan Perppu Ormas

  • Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Sikapi Penolakan Gatot
  • Presiden Belum Izinkan Gatot ke AS
  • Penghargaan FIFA, Tahunnya Real Madrid