Kantor pusat organisasi negara-negara pengekspor minyak OPEC di Wina, Austria. (Foto: Priwo/Wikimedia/Creative Commons)


KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo memastikan keluarnya Indonesia dari keanggotaan organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) tidak akan mengganggu perekonomian Indonesia.

Bahkan, kata Jokowi, kondisi tersebut dilakukan untuk menyelematkan APBN Indonesia.

"Tapi ini juga untuk perbaikan APBN. Kalau memang kita harus keluar lagi, ya juga enggak ada masalah. Ya, dulunya kan juga tidak (masalah)," ujarnya kepada wartawan di Hotel Borobudur, Jakarta, (1/12/2016).

Jokowi mengatakan ini bukan kali pertama Indonesia membekukan keanggotaannya dalam organisasi OPEC. Ia menambahkan, keluarnya Indonesia dari OPEC juga terbukti tidak mempengaruhi posisi Indonesia dengan negara-negara anggota OPEC. Dia memastikan, hubungan pribadi Indonesia dengan negara-negara anggota tersebut tetap terjalin dengan baik.

"Dulu kita pernah menjadi anggota OPEC. Kemudian tidak menjadi anggota OPEC. Pernah masuk lagi karena kita ingin informasi naik turun harga (minyak), kemudian kondisi stok di setiap negara, itu tahu kalau menjadi anggota," ucapnya.

Keputusan pembekuan sementara keanggotaan Indonesia dari OPEC diambil dalam sidang ke 171 OPEC di Wina, Austria, Rabu 30 November 2016 lalu.

Indonesia sudah dua kali membekukan keanggotaan di OPEC. Pembekuan pertama di 2008, efektif berlaku 2009. Indonesia memutuskan kembali aktif pada awal 2016.

Pembekuan sementara ini adalah keputusan terbaik bagi seluruh anggota OPEC. Sebab, dengan demikian keputusan pemotongan sebesar 1,2 juta barel per hari bisa dijalankan. Di sisi lain Indonesia tidak terkait dengan keputusan yang diambil, sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia.

OPEC setuju mengurangi produksi minyak sekitar 1,2 juta barel per hari menjadi total 32,5 juta barel per hari. Ini menjadi keputusan pemotongan kali pertama dalam delapan tahun terakhir.

Badan Energi Internasional (IEA) meyakini jika OPEC memangkas produksi minyak akan memperbaiki respon pasar pada tahun depan.

OPEC terdiri dari 14 negara---termasuk Indonesia yang saat ini membekukan sementara keanggotaan di organisasi ini. Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menjadi anggota OPEC. Pada 2008, Indonesia keluar dari keanggotaan OPEC karena sudah menjadi negara importir minyak dan tidak memenuhi kuota produksi dari OPEC.

Baca: Harga Minyak Turun, ESDM Lirik Potensi Minyak Negara Lain  

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!