Dubes Indonesia Minta Pengadilan Penyiksa Suyanti Digelar Transparan

Pelaku dari kalangan bangsawan bergelar Datuk di Malaysia.

Selasa, 27 Des 2016 20:46 WIB

Ilustrasi (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Duta Besar Indonesia di Malaysia Herman Prayitno meminta jaminan pengadilan penyiksaan TKW asal Indonesia, Suyanti, berjalan netral. Kata Herman, meskipun pelaku dari kalangan bangsawan di Malaysia, namun dia sudah meminta Kementerian Luar Negeri Malaysia untuk menjamin proses peradilan yang transparan dan berjalan adil.

"Nanti mungkin beberapa hari lagi di sidangkan di pengadilan, tanggal 29 (Desember-red). Pengadilan itu netral, kita sudah sampaikan itu ke Kementerian Luar Negeri Malaysia. Kita ingin selesaikan masalah ini dan kita ingin majikan itu mendapat hukuman yang setimpal," jelas Duta Besar Indonesia di Malaysia Herman Prayitno kepada KBR, Selasa (27/12/2016)

Herman Prayitno menambahkan, Suyanti sudah berada di shelter milik KBRI dan menjalani proses pemulihan kesehatan. Kata dia, Suyanti juga sudah berkomunikasi dengan keluarganya di Medan, Sumatera Utara.

Ujarnya lagi, Suyanti tetap berada di shelter sampai proses hukum selesai, "Kita pulangkan apabila sudah selesainya kasusnya semua. Kasusnya sudah selesai dalam arti dia sebagai saksi, sebagai pelapor dan dimintai keterangan oleh jaksa dan hakim. Kita harapkan kalau sudah selesai semua baru kita pulangkan, dia juga sudah kontak dengan keluarganya. Mudah-mudahkan tidak lama. Inikan bukan kasus yang berbelit-belit," jelasnya.

Sebelumnya, Suyanti binti Sutrino, umur 19 tahun, berasal dari Kisaran, Sumatera Utara ditemukan dengan luka di sekujur tubuhnya. Suyanti di temukan di selokan jalan Mutiara Damansara, Malaysia.

Aliansi buruh migran, Migrant Care Malaysia menyebut, pelaku penyiksaan bergelar Datuk di negaranya. Migrant Care pun khawatir kasus ini tak bisa tuntas dengan adil. 

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?