Polri: Penuntasan Kasus Novel Baswedan Bisa Makan Waktu 4 Tahun

Polri menyebut kasus teror Novel Baswedan dengan modus hit and run (serang dan lari) memang sulit terungkap. Bahkan, pengungkapan kasus seperti itu bisa sampai empat tahun.

Rabu, 01 Nov 2017 17:07 WIB

Penyidik KPK Novel Baswedan ketika melakukan video call dengan wartawan di Gedung KPK Jakarta, Rabu (11/10/2017). (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)

KBR, Jakarta - Buntunya pengungkapan kasus penyerangan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan bisa sampai bertahun-tahun. 

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Ari Dono Sukmanto mengatakan kasus teror Novel Baswedan dengan modus hit and run (serang dan lari) memang sulit terungkap. Bahkan, kata Ari Dono, pengungkapan kasus seperti itu bisa sampai empat tahun.

"Kalau kasus-kasus hit and run ini memang relatif sulit. Dalam arti bukan tidak bisa. Ada yang sudah empat tahun baru bisa ketangkap pelakunya. Sekian puluh saksi yang memberikan keterangan, tapi belum bisa menunjukkan jalannya peristiwa itu sehingga belum bisa kami pastikan siapa yang bertanggungjawab," kata Ari Dono di Kantor Bareskrim, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (1/11/2017).

Baca juga:

Ari Dono mengatakan tim Bareskrim terus mencari informasi baru dalam pengungkapan kasus Novel. Ia mengklaim, polisi masih mendalami petunjuk-petunjuk berdasarkan pernyataan saksi.

Tetapi, kata Ari, keterangan saksi-saksi tersebut seringkali buntu karena tidak ada orang yang benar-benar menjadi saksi kunci dalam kasus hantam-lari yang menimpa Novel.

"Kita dengar hanya katanya. Lalu kita kejar lagi katanya siapa, sampai akhirnya buntu," kata Ari Dono.

Meski begitu, Ari Dono memastikan polisi tidak akan berhenti mengungkap kasus tersebut. Apa lagi, kasus penyerangan Novel ini mendapat perhatian dari banyak pihak. 

"Kita masih terus berproses. Tidak akan berhenti kasus-kasus ini apa lagi kasus menonjol," katanya.

Ari mengklaim sudah beberapa kali mendatangi KPK bersama Kapolri Tito Karnavian. Kedatangan ke KPK bertujuan untuk menjelaskan perkembangan kasus penyerangan Novel, serta mengajak kerjasama untuk membantu pengungkapan kasus itu.

"Saya dan Pak Kapolri sudah dua kali ke KPK untuk menyampaikan informasi perkembangannya seperti apa, juga untuk mengajak sama-sama mengungkap peristiwa ini," katanya.

Penyidik KPK Novel Baswedan mendapat serangan teror pada Selasa 11 April 2017. Hingga kini kasus itu sudah berlangsung lebih dari 200 hari atau enam bulan lalu. 

Novel Baswedan menjadi korban penyiraman air keras sesudah salat subuh di masjid dekat rumahnya, kawasan Kepala Gading, Jakarta Utara. Akibat serangan itu, mata kiri Novel terancam buta hingga kini. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi