Gunung Agung Meletus, BNPB Siapkan Skenario Terburuk

“Sudah disusun rencana darurat. Rencana itu yang mengatur semuanya, kalau gunung Agung meletus"

Senin, 27 Nov 2017 22:38 WIB

Sejumlah warga beraktivitas di sekitar rumahnya dengan latar belakang Gunung Agung meletus di Desa Datah yaitu desa yang termasuk dalam kawasan rawan bencana, Karangasem, Bali, Senin (27/11). (Foto: Antara)

KBR,Jakarta-   Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  telah mempersiapkan skenario terburuk bagi warga Bali, apabila erupsi lebih besar terjadi pada Gunung Agung. Juru Bicara  (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pemerintah  sudah menyiapkan bantuan berupa logistik dan nonlogistik termasuk dengan menyiapkan sekolah darurat bagi siswa-siswi yang akan menghadapi ujian sekolah.

“Sudah disusun rencana darurat. Rencana itu yang mengatur semuanya, kalau gunung Agung meletus kemana dampaknya maka di sana sudah ada petanya, peta rawan bencana, kemudian berapa masyarakat yang harus mengungsi setelah berada di pengungsian tentu mereka kan mendapat pelayanan baik makanan, kesehatan, pendidikan darurat dan sebagainya. Jadi semua sudah dipersiapkan. Jadi apa yang ada saat ini sudah sesuai rencana,” ujar Sutopo, saat dihubungi KBR, Senin (27/11/2017).

Sutopo mengatakan belum mengetahui jumlah pasti desa yang berada di daerah rawan bencana dan paling dekat dengan pusat erupsi. Dia mengatakan desa dengan posisi di sekitar bantaran sungai  paling rawan terkena imbas dari lahar dingin saat  turun hujan.

“Banjir lahar dingin ada di sekitar sungai, maka harus hati-hati kalau di hulu hujan deras jangan lakukan aktivitas di sekitar sungai, hati-hati di jembatan karena rawan roboh, debit lahar dingin itu cukup kencang,” ujar Sutopo.

Selain itu Sutopo juga mengatakan sudah mempersiapkan puluhan armada untuk evakuasi warga yang berada di zona rawan bencana. Kendala saat ini,   kurangnya kendaraan untuk mengangkut hewan ternak.

Ia juga mengatakan sebanyak 22 desa masuk kedalam zona rawan bencana. BNPB mengimbau agar  pengungsi tidak menempati tenda-tenda darurat karena dikhawatirkan dengan adanya hujan debu, maka tenda akan roboh dan menimpa warga.

“Ya kami mengimbau agar tidak ada yang menggunakan tenda untuk mengungsi, pakai balai desa atau posko berbentuk bangunan. Juga kami imbau  agar segera mungkin warga mengungsi ke daerah yang lebih aman karena erupsi dengan hihgt explosif masih akan mungkin terjadi, bagi yang daerahnya tidak terdampak diharapkan tetap tenang.” Ujar Sutopo.


(Warga pengungsi Gunung Agung beraktivitas di tenda pengungsian GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Senin (27/11).)

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Karangasem, Bali, Puspa Kumari memastikan sudah tak ada lagi warga yang bolak-balik ke desa untuk menengok ternak dan kebun sejak status Gunung Agung dinaikkan dari siaga ke awas. Puspa mengatakan, warga yang sepenuhnya terevakuasi yakni yang berada dalam radius 8 hingga 10 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Sebagai antisipasi, kata Puspa, Kabupaten Karangasem telah menyiapkan banyak tenda di beberapa lapangan untuk menampung warga dari desa yang radiusnya lebih jauh.

"Dari tiga hari lalu, kemarin, dan tadi, sudah ada pengosongan. Waktu masih siaga, masih banyak yang pulang-pergi ke desanya. Kembali siang, terutama bapak-bapaknya. Bapak-bapaknya pagi ada menengok ternak, tanaman. Itu waktu siaga. Setelah awas, tidak berani lagi. Sekarang tidak berani lagi, karena sudah ada banjir, hujan abu," kata Puspa kepada KBR, Senin (27/11/2017).

Puspa mengatakan, hingga kemarin  sudah ada sekitar 24 ribu warga Karangasem yang mengungsi. Kata dia, di kabupaten tersebut ada sekitar 90 titik pengungsian yang disiapkan, dengan separuh di antaranya sudah penuh pengungsi. Selain tenda yang disiapkan Dinas Sosial, kata Puspa, beberapa warga juga membuat bedeng dari bambu dan papan secara swadaya.

Puspa juga memastikan logistik  akan aman hingga akhir tahun. Kata dia, beras dari pemerintah daerah sudah terpakai saat Gunung Agung dalam status siaga, yakni 100 ton dari pemerintah kabupaten, dan 200 ton dari pemerintah provinsi. Mulai hari ini saat status menjadi awas, Dinsos Karangasem  menggunakan beras dari cadangan pemerintah pusat.

Kata dia, pagi tadi sudah ada kucuran beras 65 ton. Mengenai lauk-pauk, kata Puspa, sudah ada alokasi Rp 3,8 miliar dari APBD Perubahan, yang diperkirakan akan aman hingga akhir tahun ini.

Aktivitas Gunung

Pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sampai Senin malam, aktivitas magma dan gempa di Gunung Agung masih tinggi.

''Erupsi magmatik sudah mulai sejak kemarin dengan dikeluarkannya lava di dalam kawah. Ada erupsi abu juga. Hembusan asap terus berlangsung sampai sekarang. Ketinggian sampai 3.400 m," ujar Kasbani, Senin (27/11).

PVMBG belum bisa memprediksi kapan erupsi susulan terjadi. Namun jika dalam satu bulan tak ada peningkatan aktivitas, maka Gunung Agung dinyatakan aman.

Saat ini mereka sudah menetapkan zona bencana hingga radius 8-10 kilometer. Area tersebut sudah dikosongkan sejak Senin (27/11). Peningkatan aktivitas sudah dimulai sejak September hingga Oktober. Kasbani mengatakan erupsi kali ini tidak bisa dibandingkan dengan aktivitas Gunung Agung 1963.

"Erupsi ini  bisa jadi pengeluaran material yang banyak seperti tahun 63, atau dia berhenti di kepulan abu seperti saat ini. Seperti di Bromo, kepulan abu sampai 6 bulan."


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi