Erupsi Gunung Agung, Ribuan Orang Mengungsi dari Bali ke Lombok

Ada sekitar 2.000 pengungsi tiba di Lombok. Jumlah ini berdasarkan pendataan pengungsi dari Pulau Bali yang datang melalui Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

Selasa, 28 Nov 2017 09:44 WIB

Seorang warga masih beraktivitas di Desa Datah salah satu desa rawan bencana Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, Senin (27/11/2017). (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana)

KBR, Mataram - Meningkatnya aktivitas Gunung Agung di Bali memicu gelombang pengungsi dari Kabupaten Karangasem Bali menuju Kota Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Gelombang pengungsian terjadi hari Minggu, 26 November 2017. Ada sekitar 2.000 pengungsi tiba di Lombok. Jumlah ini berdasarkan pendataan pengungsi dari Pulau Bali yang datang melalui Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

Juru bicara PT ASDP Cabang Lembar Deny N Putra mengatakan, pengungsi yang datang ke Lombok banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Banyak juga di antara mereka yang yang dijemput keluarga. 

Selain itu masyarakat dari Pulau Lombok yang bekerja di Bali juga banyak yang memilih pulang kampung dengan kondisi Gunung Agung yang meningkat saat ini.

"Dari data yang kami catat kemarin, yang mengungsi dari Bali ke sini itu kurang lebih dua ribu orang. Ada yang pakai kendaraan pribadi, ada yang berjalan kaki namun dijemput oleh keluarganya. Namun orang yang pakai motor dari Bali juga banyak bekerja di Bali terus pulang ke Lombok," kata Deny Putra, di Mataram, Senin (27/11).

Otoritas pelabuhan Lembar menyiapkan ribuan masker karena abu vulkanik letusan Gunung Agung sudah sampai ke wilayah Lombok. Abu halus itu terlihat jelas menempel di kendaraan bermotor. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat telah menyiapkan tempat penampungan pengungsi di Kecamatan Batu Layar. Tempat itu bisa menampung ratusan orang. 

Sementara itu, BPBD Kota Mataram juga menyiapkan 10 ribu lembar masker untuk warga untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik Gunung Agung ke wilayah Mataram dan sekitarnya. 

Kepala BPBD Kota Mataram Dedy Supriadi mengatakan pembagian masker akan dikoordinasikan dengan BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat.

"Kami masih menunggu informasi lebih jelas. Jika sudah dibutuhkan langsung masker kami bagikan. Kalau tidak nanti ya besok, karena kami nunggu informasi dari provinsi juga ini. Di Kota Mataram ada sekitar 10 ribu masker, nanti kami kerjasama dengan Dinas Kesehatan. Untuk sementara di Kota Mataram belum terganggu," kata Dedy Supriady.

Karena jumlah masker terbatas, BPBD Mataram berharap bantuan pihak-pihak lain untuk mencegah timbulnya dampak buruk abu vulkanik Gunung Agung. BPBD Nusa Tenggara Barat memperkirakan dibutuhkan setidaknya 500 ribu lembar masker, sedangkan yang tersedia di NTB saat ini baru 50 ribu lembar masker.


Pengendara melintas jalan yang tertutup abu vulkanik di Desa Jungutan, salah satu kawasan rawan bencana di Karangasem, Bali, Senin (27/11/2017). (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana)

Baca juga:

Evakuasi 100 ribu

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan ada 22 desa yang terdampak letusan Gunung Agung, dan sekitar 100 ribu jiwa harus dievakuasi. Namun hingga Senin siang jumlah pengungsi yang terdata BNPB baru berjumlah setengahnya sekitar 40 ribu jiwa.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah warga yang harus mengungsi mencapai 100 ribu karena radius bahaya diperluas mencapai 10 kilometer. 

"Ada 22 desa yang harus mengungsi yaitu Desa Penanga, Besakeh, Pempatan, Selata, Pring sari, Kocah, Anggota Buana dan Sebudi. Sekarang berapa jumlah penduduk yang harus dikosongkan, kami masih melakukan penghitungan. Permintaan awal ada 90 ribu hingga 100 ribu yang harus dievakuasi dari zona berbahaya. Namun belum semua masyarakat mengungsi dengan alasan ternaknya belum dievaluasi dan masih aman," kata Sutopo di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Ia mengatakan masih ada sekitar 8.000-an ternak yang sudah di evakuasi, namun masih ada 5000-an ternak belum dievakuasi dari desa-desa zona bahaya.

Sutopo mengatakan ada banyak ancaman di wilayah terdekat Gunung Agung yaitu ancaman awan panas, hujan debu vulkanik, lontaran material panas hingga banjir bandang. Ia meminta masyarakat segera melakukan pengungsian mandiri. Sutopo juga menyarankan warga mengurangi aktivitas diluar rumah, tetap menggunakan masker dan rajin membersihkan atap rumah dari hujan abu.

BNPB memperkirakan masih ada letusan susulan dari puncak Gunung Agung. Sebaran abu vulkanik diperkirakan mencapai Lombok dan sekitarnya karena pengaruh angin dan hujan.

"Sebaran abu tergantung arah angin, dominan dari barat laut menuju timur tenggara. Erupsi akan meningkat, dan ketika masuk musim penghujan maka abu akan dominan ke tenggara dan timur, mempengaruhi Lombok dan sekitar," kata Sutopo. 

Meski ada indikasi letusan susulan yang lebih besar, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan letusan Gunung Agung tidak akan sebesar letusan pada 1963. Pada waktu itu, letusan Gunung Agung menewaskan 1.500-an orang, merusak 1.700 bangunan serta ratusan ribu orang kehilangan mata pencaharian.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG kembali menaikkan status Gunung Agung dari level III (Siaga) menjadi level IV (Awas) sejak Senin, 27 November 2017 pukul 06.00 WIB. Sepanjang hari itu terjadi enam kali gempa vulkanik dangkal, dua kali gempa vulkanik dalam, dua kali gempa tektonik loka, satu kali gempa letusan dan tiga kali gempa tremor. 

Sedangkan pada Selasa, 28 November 2017 hingga pagi terjadi empat kali gempa dangkal dan dua kali gempa dalam, dengan gempa tremor terjadi terus-menerus.


Erupsi Gunung Agung membuat warga mengungsi termasuk di tenda pengungsian GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Senin (27/11/2017). (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur