BPS: Hingga Agustus Angka Pengangguran 7,04 juta

Mayoritas pekerja di Indonesia berpendidikan rendah, SD ke bawah 42,13 persen.

Senin, 06 Nov 2017 22:42 WIB

Ilustrasi: Karyawan perusahaan penyedia lowongan kerja memberi informasi kepada pencari kerja saat Job Fair 2017 di Taman Kota Lumintang Denpasar, Kamis (19/10). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Badan Pusat Statistik merilis jumlah pengangguran terbuka selama periode Agustus 2016 hingga Agustus 2017 bertambah 10 ribu orang. Dari total 128 juta orang berusia 15-64 tahun, sebanyak 7,04 juta di antaranya menganggur. Mayoritas didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Menengah Atas.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan kualitas pendidikan angkatan kerja memang masih jadi pekerjaan rumah pemerintah. Selain itu, setidaknya 800 ribu lulusan SMK menganggur di tahun ini.

"Kita punya PR besar. Mayoritas pekerja di Indonesia berpendidikan rendah, SD ke bawah 42,13 persen. Sementara yang pendidikan universitas baru 9,35 persen. Ke depan perlu berupaya bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan pekerja kita," kata Suhariyanto di kantornya, Senin(6/11).

Angka pengangguran terbuka di SMK terus naik dari tahun ke tahun. Setelah sempat turun pada triwulan sebelumnya hingga 9,27 persen, namun di triwulan ini justru jumlah lulusan SMK yang menganggur bertambah. Peningkatan pengangguran juga ditunjukkan oleh lulusan universitas dan program diploma.

Di sisi lain, BPS juga menyoroti jumlah pekerja juga bertambah 2,61 juta orang dari tahun lalu. Mayoritas pekerja masih tersalur ke sektor industri, perdagangan, dan jasa kemasyarakatan. Data BPS mencatat ada peningkatan persentase penduduk yang bekerja di tiga sektor itu.

Sementara justru sektor pertanian , pertambangan, dan konstruksi mengalami penurunan. Dia menjelaskan menurunnya pekerja di sektor konstruksi disebabkan pula karena sejumlah proyek infrastruktur pemerintah sudah selesai dibangun.

Untuk sektor pertanian, dari sisi pertumbuhannya pun memang menunjukkan pelambatan. Namun Kecuk mengatakan hal itu dipengaruhi oleh faktor perubahan cuaca.

"Penyebabnya tanaman pangan. Lebih karena cuaca. Tahun ini cuaca kembali normal sementara tahun lalu produksinya bagus sekali kemarau basah sehingga mendukung."

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

BPS : Upah Buruh Tani Naik Tipis Pada Bulan Desember

  • ICEL Desak Jokowi Undang-Undang Aturan Pengendalian Lingkungan
  • Antisipasi Lonjakan Penumpang, PT KAI Daop 5 Siapkan Dua Kereta Api Tambahan

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi