Pengungsi etnis Rohingya di klinik di Bangladesh. Foto tanpa tanggal. (Foto: Pierre Prakash/Komisi Eropa/Creative Commons)


KBR, Jakarta - Pemerintah menyiapkan penampungan sementara untuk mengantisipasi lonjakan pengungsi dari etnis Rohingya, Myanmar.

Ini menyusul adanya kekerasan yang dialami etnis minoritas Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar, beberapa pekan terakhir.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan pemerintah telah membicarakan persoalan pengungsi secara bilateral maupun multirateral.

"Kemarin, saya juga sudah menerima utusan dari PBB, UNHCR mengenai bagaimana kita menangani ini. Indonesia bukan negara tujuan pengungsian, Indonesia belum masuk negara yang menampung pengungsi. Tapi bagaimanapun juga kalau pengungsi datang mau diapakan? Maka kemudian kita siapkan penampungan sementara, untuk nanti kita bisa menyalurkan ke negara ketiga," kata Wiranto di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (21/11/2016).

Meski begitu, Wiranto menambahkan pemerintah perlu menyiapkan regulasi maupun alokasi anggaran menghadapi persoalan itu.

"Tapi ini perlu regulasi, perlu satu usaha, perlu dana, penampungan-penampungan. Itu sudah kita selesaikan dengan baik," imbuh Wiranto.


Krisis di Myanmar

Sebelumnya, organisasi pemantau Hak Asasi Manusia, Human Rights Watch (HRW) mencatat terdapat 430 bangunan di tiga desa di Rakhine dihancurkan militer Myanmar. Bahkan dalam keterangan terakhir berdasarkan citra satelit, bangunan yang dihancurkan mencapai 820 unit rumah selama November ini.

Total selama November sudah ada sekitar 1,250 bangunan yang dirusak oleh serangan militer Myanmar.

Serangan militer itu dilakukan pasca tewasnya sembilan polisi di perbatasan Myanmar-Bangladesh.

HRW mendesak pemerintah Myanmar mengundang PBB untuk melakukan penyelidikan kasus penyerbuan tiga desa itu.

Sementara kelompok etnis Rohingya di Myanmar menyebutkan lebih dari 100 orang tewas dibunuh dan sedikitnya seribu rumah dirusak dan ratusan orang ditangkap pemerintah Myanmar. Namun informasi ini sulit dikonfirmasi kebenarannya.

Namun pemerintah Myanmar menuding media salah memberitakan situasi di Rakhine. Meski begitu pemerintah Myanmar mengakui menggunakan helikopter perang untuk membantu pasukan militer dalam memburu kelompok orang yang diduga pelaku pembunuhan polisi.

Serangan militer di Rakhine menyebabkan setidaknya 28 orang tewas. Pembakaran terjadi sejak 22 Oktober hingga 10 November lalu di negara bagian Rakhine. Ini bersamaan saat militer memburu pelaku penyerangan polisi di tiga desa tersebut.

Pekan lalu, otoritas Bangladesh menghalau 125 pengungsi asal Rohingya yang hendak masuk ke wilayahnya. Ratusan orang melarikan diri dari kerusuhan dan kekerasan yang terjadi di Myanmar.

Saat ini, tercatat 3.000 orang telah mengungsi akibat kekerasan di Rakhine. Separuh dari jumlah itu atau sekitar 1.500 di antaranya mengungsi pada minggu lalu, ketika puluhan orang tewas dalam bentrokan dengan
militer.

Editor: Agus Luqman
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!