PBNU: Jangan Bawa Konflik Timur Tengah ke Indonesia

"Umat Islam harus bersyukur kepada proses demokrasi yang memberi ruang untuk mengemukan pendapat depan umum, tanpa ada ancaman represif dari aparat," kata Kiai Maman.

Selasa, 01 Nov 2016 11:12 WIB

Massa dari kelompok FPI dkk saat menggelar pawai menuju Bareskrim Mabes Polri dan Balaikota Jakarta, Jumat (14/10/2016). (Foto: ANTARA)

KBR, Cirebon - Rencana aksi besar-besaran ormas Islam yang dimotori kelompok FPI pada 4 November 2016 mendatang, menyedot perhatian banyak kalangan. Termasuk dari Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama.

Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maman Imanulhaq mengatakan demokrasi merupakan sarana rakyat untuk menyampaikan aspirasinya kepada negara. Namun, demokrasi harus berjalan dengan aman tanpa mengganggu kepentingan umum apalagi sampai diwarnai kekerasan.

"Umat Islam harus bersyukur kepada proses demokrasi yang memberi ruang untuk mengemukan pendapat depan umum, tanpa ada ancaman represif dari aparat seperti zaman Orde Baru. Karenanya, demo sebesar apapun harus tetap santun,  tidak anarkis dan tidak merusak fasilitas umum," kata Maman di Cirebon, Selasa (01/11/2016).

Baca juga:


Kiai Maman mengatakan, Indonesia harus jadi negara yg menjadi contoh bagaimana agama menjadi spirit bagi umatnya untuk melakukan perubahan dan perdamaian.

"Jangan bawa konflik Timur Tengah ke Indonesia. Nilai Islami dalam berdemokrasi akan terlihat bila tidak ada caci maki dan provokasi," tuturnya.

Ia juga meminta aparat keamanan tetap bersikap adil, konstitusional dan profesional menghadapi demonstrasi masa yang besar dengan isu yang sensitif seperti itu.

"Jangan panik. Rakyat di belakang pemerintah untuk memberikan rasa aman dan tenang. Siapapun yang mengancam dan hendak membuat kekacauan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan berhadapan dengan rakyat," kata Kiai Maman.

Baca juga:


Kiai Maman juga mengimbau para nettizen atau warga digital dunia maya tetap rasional dan menjaga kesalehan dalam bermedia sosial.

"Jangan mem-viral gosip apalagi fitnah yang akan menimbulkan kepanikan.  Jadikan medsos sebagai ladang amal dan mimbar kebaikan dengan menulis, men-share dan memviral hal-hal positif yg menguatkan ukhuwah, nasionalisme dan kemanusian," ujarnya.

Baca: Beredar Meme 'Sindiran' Aksi 4 November

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi