Presiden RI Joko WIdodo. (KBR/Danny)

Presiden RI Joko WIdodo. (KBR/Danny)


KBR, Jakarta- Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan pemimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI),Nahdatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah di Istana Merdeka, Jakarta masih berlangsung hingga saat ini.


Dalam pembukaannya tadi, Presiden Jokowi mengungkapkan tujuannya melakukan pertemuan tersebut ialah untuk meminta ulama memberi nasehat yang mempersatukan umat.

"Silaturrahim antara ulama dan umaro ini harus terus kita jalin, kita pelihara, kita rawat, kita tingkatkan. Kita percaya para ulama merupakan penerus nabi dan tugasnya membawa kabar yang baik, menjaga umat, memberikan peringatan, memberikan tuntunan pada umat dan kita semuanya," ujarnya di Istana Merdeka, Jakarta.

Kata dia, ulama sangat berperan dalam menjaga kesatuan dan kesatuan negara mulai sejak negara ini berdiri hingga seterusnya.

"Karena dari beberapa pertemuan kami, para kepala negara, terutama anggota OKI, mereka menyampaikan sangat menghargai apa yang terjadi di Indonesia, baik dari kerukunan, baik hubungan antara ulama dan umaro, juga kehidupan sehar-hari keagamaan kita. Mereka juga sangat mengapresiasi," ucapnya.

Baca: PBNU: Jangan Bawa Konflik Timur Tengah ke Indonesia

Jokowi menambahkan, tidak ada pertentangan antara Islam dan negara Indonesia. "Kami berharap bahwa ulama juga berani mengambil sikap tegas bahwa antara Islam dan keIndonesiaan bukan harus dipertentangkan, tetapi marilah kita bersama-sama kita jaga, kita pelihara, kita perjuangan keIndonesiaan kita," tambahnya.

Hadir dalam pertemuan ini pemimpin MUI, NU dan Muhammadiyah yaitu Ketua MUI Ma'Ruf Amin, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, dan Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Hadir juga Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menko Polhukam Wiranto, dan Mensesneg Pratikno.

Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!