Cuaca Buruk, 19 Kapal Nelayan Tenggelam dan 60 Rusak di Cilacap

Cuaca buruk terjadi di Cilacap sejak 2 pekan terakhir

Senin, 23 Okt 2017 14:28 WIB

Ilustrasi: Cuaca buruk akibatkan gelobang tinggi di Jateng. (Foto: KBR/Musyafa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Cilacap– Sebanyak 19 kapal motor berukuran di bawah 10 gross ton (GT) tenggelam di perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah dalam dua pekan terakhir. Selain itu, sedikitnya 60 kapal dengan ukuran yang sama rusak berat dan ringan akibat insiden tumbukan yang dipicu terjangan banjir Muara Kali Yasa.
 
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Sarjono mengatakan insiden terakhir terjadi pada Sabtu dan Minggu (21-22/10/2017) di muara Kali Yasa, Cilacap selatan. Satu kapal berukuran 7 GT tenggelam pada Minggu. Sementara , sehari sebelumnya, di lokasi yang sama empat kapal motor di bawah ukuran 10 groos ton juga tenggelam dengan penyebab serupa, yakni arus deras Kali Yasa dan cuaca buruk.



Paling banyak, kata Sarjono, terjadi pada 7 Oktober 2017 dinihari. Ketika itu, terjadi banjir kiriman dari hulu Kali Yasa dan Sungai Serayu. Karena tak waspada, saat itu, ada ratusan kapal motor yang terseret hingga masuk ke perairan pantai. Kapal-kapal saling bertumbukan satu sama lain sehingga menyebabkan kerusakan berat dan ringan. 53 kapal rusak ringan, sedangkan 15 kapal lainnya rusak parah dan akhirnya tenggelam.
 
Menurut Sarjono, kapal baru bisa dievakuasi keesokan harinya lantaran cuaca yang tak memungkinkan. Evakuasi dilakukan selama tiga hari berturut-turut, dengan bantuan  kapal crane Pelabuhan Perikanan Samuderas Cilacap (PPSC).
 
“Karena terjangan arus kencang dari Kali Yasa itu. Akhirnya, kapal yang putus talinya, saling bertabrakan dan mengakibatkan kerusakan ada 15 kapal motor yang rusak parah. Lebih kurang ada 50 kapal yang mengalami kerusakan ringan.  Itu untuk evakuasi, ada bantuan crane mobile Pelabuhan PPSC. Dan dibantu oleh warga nelayan dan TPKL,” kata Sarjono, Senin pagi (23/10/2017).

 Lebih lanjut Sarjono mengemukakan, akibat kejadian ini, nelayan menderita kerugian lebih dari Rp 3 miliar. Kerugian terbesar berasal dari kapal-kapal yang pecah dan nyaris hancur total sehingga tak lagi bisa diperbaiki. Ada pula, kapal-kapal yang retak dan memerlukan perbaikan berat.
 
Sampai hari ini, ujar Sarjono,  masih terus mendata jumlah kerusakan yang dialami oleh nelayan. Dia berharap agar pemerintah memberi perhatian dan membantu para nelayan. Sebab, insiden kerusakan massal ini disebabkan oleh bencana alam.
 
Sarjono menambahkan, meski Oktober masih terhitung sebagai musim panen ikan, namun nelayan Cilacap kesulitan untuk melaut. Sebab, cuaca buruk dan gelombang tinggi hampir tiap hari terjadi. Dalam kondisi hujan dan gelombang tinggi, ikan cenderung berlindung dan tak muncul di permukaan. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan menurun drastis.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

Alasan Panitia MocoSik Festival 2018 Larang Penjualan Buku Komunis

  • Kembangkan Aplikasi Street View, Google Diminta Jaga Hak Privasi Warga
  • Kembangkan Google Street View, Warga yang Keberatan Bisa Mengadu
  • DPRD Banyumas Bakal Panggil Pelbagai Pihak terkait Kasus Pemukulan Guru ke Siswa

Diabetes kerap menjadi masalah yang mengkhawatirkan di Indonesia. Penyakit yang satu ini berkaitan erat dengan pola gaya hidup sehat, mulai dari makanan hingga aktivitas fisik.