Tuntut Pembebasan, Ratusan Anak dan Istri Nelayan Geruduk Konjen Malaysia di Medan

Sebelumnya aparat Malaysia menangkap 12 nelayan atas dugaan melanggar batas wilayah

Kamis, 26 Okt 2017 21:37 WIB

Keluarga nelayan tradisional pelabuhan Belawan melakukan unjuk rasa di Konjen Malaysia, Kamis (26/10). (Foto: KBR/Anugrah N.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Medan- Ratusan keluarga nelayan yang bergabung dalam Aliansi Nelayan Selat Malaka Kota Medan, menggeruduk Kantor Konsulat Jendral (Konjen) Malaysia di Jalan Diponegoro, Medan, Kamis (26/10). Koordinator aksi, Usman mengatakan kedatangan mereka untuk meminta  Malaysia agar membebaskan 12 orang nelayan tradisional asal Belawan, Sumatera Utara yang ditangkap oleh Polisi Maritim Diraja Malaysia pada Minggu (15/10) lalu.

"Bebaskan nelayan kami. Mereka menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia," tegas Koordinator aksi, Usman, Kamis (26/10). 

Massa aksi yang juga terdiri dari anak-anak tersebut mengatakan, penangkapan keluarga mereka dinilai tidak memiliki dasar yang tepat. Mereka mengklaim  lokasi penangkapan nelayan   berada pada titik koordinat 04 23.506 N dan 099 21.354 yang masih merupakan wilayah perairan Indonesia.

"Polisi Maritim Diraja Malaysia jangan sesuka hati menuduh nelayan kami melewati batas perairan. Kembalikan mereka secepatnya," kata Usman.



Tak hanya itu, massa juga meminta kepada Pemerintah Diraja Malaysia agar mematuhi kesepakatan bersama antara Indonesia dan Malaysia, pada tanggal 27 Januari 2012 tentang nota kesepahaman dalam penanganan terhadap nelayan yang memasuki wilayah perairan masing-masing negara.

"Meminta kepada Mahkamah Malaysia untuk tidak memproses nelayan tradisional kami. Jangan adili dan sakiti nelayan tradisional kami," tandas Usman.

Para pengunjuk rasa juga mengancam akan melakukan aksi menginap jika tuntutan mereka tidak segera direalisasikan oleh pihak Malaysia.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".