Ilustrasi (sumber: Antara)

KBR, Manokwari- Korban tewas dalam insiden di Sanggeng, Manokwari, Papua Barat Onesimus Rumayom (40) ditembak Polisi saat tengah merunduk. Saat itu, Onesius ingin mengambil spanduk yang tergeletak di jalan untuk dibakar.

Pendamping keluarga korban sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy mengatakan hal itu berdasarkan keterangan saksi dan keluarga. Itu sebab ia menduga ada kesalahan prosedur dalam pengendalian massa yang dilakukan aparat keamanan.

"Ia (Onesius) ikut untuk membakar spanduk yang sudah dirobohkan ke jalan. Dia mau bakar spanduk itu. Pada saat ia mau menunduk untuk membakar, terjadilah penembakan dan mengenai tubuhnya. Kemudian ia terjatuh dan dilarikan ke rumah sakit. Tetapi sampai di RS tidak tertolong nyawanya," jelasnya saat dihubungi KBR, Jumat, 28 Oktober 2016.

Hari ini Yan akan menyurati Kapolda Papua Barat, Roy Lumowa dan Kapolres Manokwari untuk mempertanyakan prosedur pengendalian massa yang dilakukan Polisi saat peristiwa berlangsung.

"Kami meminta (Kapolda dan Kapolres) melakukan tindakan hukum terhadap aparat yang diduga keras terlibat dalam penembakan yang dinilai melewati prosedur. Kemudian meminta mereka membuka diri untuk menerima investigasi yang dipimpin langsung oleh Komnas HAM," ujarnya.

Sedangkan untuk mengetahui penyebab kematian, menurut Yan, jasad Onesimus akan diotopsi di di Rumah Sakit Angkatan Laut (AL) Fasharkan Manokwari. Keluarga menganggap otopsi ini penting untuk mengklarifikasi pernyataan Kapolda Papua, Roy Lumowa.

Roy sebelumnya menyatakan bahwa penyebab kematian korban bukan karena luka tembak.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan jantung dokter Rumah Sakit Fasharkan AL, jantung itu IKG korban sudah flat, jadi korban meninggal kemungkinan sebelum ke Rumah sakit, dan berani kami bilang bahwa korban meninggalnya bukan karena tembakan, karena luka tembaknya tidak mengenai tulang,  dan tidak ada pendarahan, jadi luka itu tidak mematikan," ungkap Brigjen Roy kemarin, 27 Oktober 2016.

Tragedi yang terjadi pada 26 dan 27 Oktober kemarin ini membuat seorang tewas dan belasan korban luka-luka. Mereka di antaranya mengalami luka tembak di dagu, paha dan punggung. Bahkan salah seorang yang mengalami luka tembak di dagu, Erikson Inggabo rencananya akan dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Saat ini mereka di rawat di Rumah Sakit Angkatan Laut (AL) Fasharkan Manokwari.

"Dagu bawahnya terlihat tulangnya. Sekarang masih pendarahan terus. (Kondisinya bagaimana? Tadi malam masih baik, saat ini saya belum tau," ujar Yan Christian Warinussy. 


Penyerangan Sistematis

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan dugaan penyerangan sistematis yang dilakukan aparat keamanan di Papua dalam menangani aksi massa di Kompleks Pasar Sanggeng, Kabupaten Manokwari. Dalam insiden itu, kata Anggota Komnas HAM Natalius Pigay, 11 warga menjadi korban.

Jumlah ini bertambah dari yang sebelumnya diketahui sebanyak sembilan orang. Sepuluh di antaranya merupakan korban kekerasan aparat.

"Secara keseluruhan jumlah korban bertambah menjadi 11 orang. Dari 11 yang 10 di antaranya terkena serangan aparat, korban serangan aparat. Tembakan 9, satu orang kena popor senjata. Ditambah satu orang penusukan," jelas Natalius Pigay kepada KBR, Jumat (28/10/2016).

Meski begitu, tambah Natalius, Komnas HAM belum bisa menyimpulkan unsur aparat keamanan mana yang melakukan serangan tersebut.

"Kami belum menyimpulkan ini polisi, TNI atau bagaimana. Kami hanya sebut aparat keamanan," katanya.

Perwakilan Komnas HAM di Papua masih harus memastikan dan menggali keterangan dari sejumlah pihak di antaranya saksi mata, keluarga korban, pemerintah dan aparat setempat. Yang jelas, kata Natalius, temuan sementara menunjukkan tindakan aparat keamanan tak sesuai dengan standar prosedur penanganan aksi massa.

"Saya kira kalau tidak sesuai SOP pasti iya, ini kan serangan secara sadar. Tentu ini dilakukan atas perintah dan komando. Kalau bukan serangan, tidak mungkin ada banyak korban," tegas Natalius.

Natalius melanjutkan, "kalau dilihat dari pola serangan, serangan juga dilakukan sporadis. Jadi tersistem tetapi juga terjadi penyebaran. Saya kira kalau serangan dari beberapa sudut yang dilakukan maka itu ada sebuah skenario atau rancangan yang tersistem. Karena itu menurut saya sangat tidak mungkin kalau pelakunya melakukan hanya secara spontanitas."

Hasil investigasi Komnas HAM di lokasi kejadian akan diijadikan bahan untuk menentukan tindak lanjut dan rekomendasi atas insiden ini. Rencananya, Selasa pekan depan pihaknya akan menggelar rapat untuk membahas kasus ini.

Lebih lanjut, Anggota Komnas HAM Natalius Pigay pun meluruskan pernyataan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto yang menyebut insiden Manokwari dipicu oleh warga yang mabuk.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun Komnas HAM dari keluarga korban, lembaga pendamping dan mitra lembaganya, insiden di Manokwari diawali dengan kejadian kurang bayar di sebuah warung makan oleh Vijay Pauspaus.

"Setelah kami teliti, peristiwa ini dipicu oleh anak kecil yang makan di sebuah warung makan kemudian karena tidak punya uang, meminta bapaknya datang membayarkan. Namanya Abdullah Pauspaus, dia muslim tapi asli Papua dari Fakfak," ceritanya.

Vijay kemudian menghubungi sang ayah untuk memenuhi kurang bayar tersebut. Namun saat ayahnya, Abdullah Pauspaus tiba di warung, dia menemukan anaknya dengan luka tusukan.

"Setelah anaknya ditusuk, bapaknya kembali ke rumah menyampaikan ke warga sekitar. Lalu mereka blokade jalan, dalam keadaan sadar, tidak mabuk. Jadi jangan salah, bukan karena mabuk" kata Natalius.

"Mabuk itu siapa yang mabuk? Itu kan dipicu kondisi awal dari anak kecil yang makan kurang uang, kemudian bapaknya datang dalam keadaan normal. Silakan dibuktikan di lapangan. Saya membantah dan menyatakan Menkopolhukam salah berpikir, salah bertindak," lanjutnya.

Dia pun menyesalkan pernyataan Menkopolhukam Wiranto yang terlalu gegabah menyimpulkan penyebab insiden.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!