Ilustrasi: Aksi Serikat Petani Karawang (Sepetak). (Foto: Sepetak)



KBR, Jakarta - Serikat Tani Nasional (STN) bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) akan menggugat PT Pertiwi Lestari terkait dugaan penganiayaan dan kekerasan yang dilakukan preman sewaan perusahaan.

Ketua Umum  Serikat Tani Nasional Ahmad Rifai mengatakan, langkah hukum itu akan dilakukan sembari menunggu surat jaminan keamanan yang dijanjikan Mabes Polri dan Kementerian Sekretariat Negara. Selain itu, pihaknya juga akan mengajukan penangguhan penahanan bagi 12 petani yang masih ditahan di Polres Karawang.

"Kalau itu sudah pasti dilakukan pengacara kami. Besok kami ada pertemuan dengan semua unsur yang mendukung perjuangan petani di Karawang," jelas Ketua Umum  Serikat Tani Nasional Ahmad Rifai kepada KBR, Sabtu (22/10/2016).

"Kami bersama Kontras dan LBH Jakarta kalau tidak ada halangan sesuai rencana kita akan melakukan pelaporan terhadap tindakan kekerasan PT Pertiwi Lestari kepada teman-teman petani," imbuhnya.

Baca juga:

Di samping itu, Ketua STN Ahmad Rifai juga meminta perhatian Kementerian Sosial dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait pengungsi perempuan dan anak-anak. Kelompok pengungsi usia anak, menurutnya membutuhkan pendampingan untuk memastikan hak pendidikan tak terabaikan kendati di lokasi pengungsian.

"Kami sudah berkomunikasi dengan KPAI dan masih dalam proses belum ada proses. Untuk perempuan dan anak kami sudah koordinasikan, kita juga butuh makanan bayi, pampers, susu.Ada juga anak-anak SD yang masih belajar tetapi harus ikut orang tuanya," katanya.

Sebelumnya, ratusan petani terusir dari tanah mereka di Teluk Jambe Barat, Karawang. Keselamatan mereka terancam setelah lahan yang mereka tempati diklaim oleh PT Pertiwi Lestari, salah satu anak perusahaan Salim Grup. Perusahaan pengembang itu, menurut pengakuan petani, juga melakukan kekerasan terhadap perempuan dengan membentuk milisi sipil untuk mengintimidasi petani agar keluar dari lahan tersebut.

Baca juga:





Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!