Mengungsi ke Jakarta, Petani Telukjambe Karawang Butuh Bantuan

"Kalau alas tidur segala macam waktu di kantor, pertama kami sediakan sumbangan tikar dari Tanah Merah, kedua dengan spanduk-spanduk "

Kamis, 20 Okt 2016 23:15 WIB

Petani Telukjambe Karawang, Jawa barat. (Foto: KBR/Ninik J.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Seratusan petani Karawang yang mengungsi dari konflik lahan mulai bermalam di LBH Jakarta sejak Kamis (20/10/2016) sore. Mereka sebelumnya menginap di kantor Serikat Tani Nasional (STN) di Tebet juga di Tanah Merah.

Ketua STN, Ahmad Rifai, menyatakan mereka bermalam dengan kondisi memprihatinkan. Sebab, hampir seluruh petani ini tidak membawa barang-barang termasuk pakaian. Ironisnya, sebagian dari warga yang mengungsi ini adalah anak, bayi, dan perempuan hamil.

"Ya seadanya. Kalau dari sana kan mereka bawa badannya doang," jelasnya kepada KBR.

"Kalau alas tidur segala macam waktu di kantor, pertama kami sediakan sumbangan tikar dari Tanah Merah, kedua dengan spanduk-spanduk vinyl itu," jelasnya lagi.

Rifai mejelaskan, kebutuhan sehari-hari para petani kini diambil dari uang kas organisasi. Sementara pakaian mereka dapatkan dari sumbangan tetangga di Tanah Merah, namun jumlahnya masih kurang. Para pengungsi yang perempuan sangat membutuhkan sumbangan pembalut, sementara bayi membutuhkan makanan dan susu bayi.

Kata Rifai,mereka telah menghubungi Dinas Sosial DKI Jakarta. Namun Dinsos hanya menawarkan mereka untuk pulang ke kampung mereka di Karawang. Sementara Kementerian Sosial yang sebelumnya akan mengecek para petani pun belum pernah datang.

Para petani ini, kata Rifai, akan kembali ke Karawang jika polisi menjamin warga aman dari intimidasi perusahaan dan aparat. Sementara kasus hukum bisa dikawal dari Karawang dan organisasinya di Jakarta.

"Yang penting jaminan keamanan dulu," tegasnya. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Anas Urbaningrum Jadi Saksi Sidang e-KTP

  • Wasekjen Golkar: Ketua Umum Selanjutnya Sebaiknya Tidak Rangkap Jabatan
  • Ratusan Penumpang KA Jalur Selatan Diangkut Bus akibat Longsor Garut
  • Warga AS Eks Tahanan Korut Ditemukan Tewas Terbakar