Ilustrasi (Foto: Humas.polri.go.id)

KBR, Jakarta - Keluarga korban tewas dalam insiden di Sanggeng, Manokwari, Papua Barat Onesimus Rumayom (40) menolak kehadiran Kapolda Papua Barat Royke Lumowa pada upacara pemakaman.

Alasannya, keluarga Ones masih belum bisa menerima pernyataan Kapolda Papua Barat tersebut terkait penyebab kematian korban. Menurut pendamping keluarga korban, Roy Simbiak, pemakaman Ones dikawal oleh aparat TNI AD dan AL. Kata dia, hampir seribuan orang mengantar pemakaman Ones.

"Tadi Kapolda minta untuk hadir ke rumah duka, rakyat menolak kehadiran Kapolda Papua Barat, karena pernyataan Kapolda bahwa korban meninggal karena faktor penyakit lain padahal karena penembakan dan pendarahan," jelas pendamping keluarga korban tewas dalam rusuh Manokwari, Roy Simbiak kepada KBR, Sabtu (29/10/2016).

"Jadi masyarakat tolak kehadiran Kapolda. Pernyataan Kapolda Papua Barat menyinggung masyarakat Papua yang ada di Manokwari," imbuhnya.

Roy pun menambahkan, belakangan keluarga korban juga menolak proses otopsi kematian Ones. Sebab, keluarga korban telah kehilangan kepercayaan terhadap proses hukum termasuk otopsi oleh aparat kepolisian.

"Mereka menolak otopsi karena tidak percaya. Polisi tidak akan mengungkap siapa pelakunya. Itu alasannya, penembakan di Papua maupun di luar Papua, otopsi yang dilakukan polisi pelakunya tidak ketahuan. Tindak lanjut dari perkara itu kelihatannya ada impunitas, pelakunya tidak ditindaklanjuti," jelasnya.

Baca juga:

Sementara itu menurut pendamping keluarga korban Roy Simbiak, Ericson salah satu korban luka dalam rusuh di Manokwari dirujuk ke Jakarta karena kondisinya kritis.

"Ada satu korban juga dibawa ke Jakarta karena kritis, belum tahu di rumah sakit mana," ungkapnya.




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!