Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P Marsudi bersama sandera Somalia dan keluarga , Jakarta, Senin (31/10). (Foto: Kemenlu)


KBR, Jakarta- Empat orang anak buah kapal (ABK) yang disandera oleh perompak Somalia sejak Maret 2012 lalu telah berkumpul kembali bersama keluarga. Setelah dibebaskan pada Minggu (23/10) lalu, Kementerian Luar Negeri akhirnya menyerahkan mereka kepada pihak keluarga. 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan sampai detik-detik terakhir, pihak pembebas masih harus menghadapi serangan dari kelompok perompak lain. 

"Salah satu kesulitan yang kita hadapi yaitu kompleksitas masalah yang ada di daratan juga. Dapat saya sampaikan bahwa pada detik-detik terakhir menjelang pelepasan sandera, masih terdapat upaya dari kelompok lain yang ingin mengambil alih para sandera ini," kata Retno di kantor Kemenlu, Senin (31/10). 

Satu setengah tahun terakhir, ujarnya, pemerintah Indonesia giat menjalin komunikasi dengan lima negara lain (Kamboja, Tiongkok, Filipina, Taiwan, Vietnam) yang warga negaranya juga disandera. Upaya pembebasan sandera yang awalnya terpisah-pisah, kemudian menjadi terintegrasi.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu M. Iqbal mengatakan pemerintah sudah mengantongi nama-nama para pelaku. Ia membantah jika kelompok yang membajak kapal para WNI tersebut adalah kelompok militan Al-Shabaab. 

Lalu menegaskan upaya pembebasan ini murni melalui jalur negosiasi dan kondisi psikologis para perompak. Pemerintah tidak membayar uang tebusan sepeserpun. "Ya negosiasi. Dan kami terbantu juga dengan upaya dari para sandera untuk menekan para perompak. Mereka mogok makan, dan lagi waktu terakhir dibebaskan itu semua dalam kondisi sakit," ujar Lalu. 

2012 silam, kapal pencari ikan Naham 3 berbendera Oman dibajak oleh sekelompok perompak Somalia. Nahkoda kapal tewas tertembak, sementara 5 ABK lain asal Indonesia disandera. Berdasarkan cerita Sudirman salah satu ABK, mereka menghabiskan 1,5 tahun dalam kapal dan 3 tahun sisanya di daratan. Selama itu, satu orang WNI atas nama Nasirin asal Cirebon tewas karena sakit. 

Kapal Naham 3 diebut melakukan penangkapan ikan ilegal di perairan Somalia. Kapal itu aslinya milik orang Taiwan namun menggunakan bendera Oman. Saat ini perusahaan yang mempekerjakan kelima ABK itu sudah bangkrut dan tidak bisa dihubungi. Kemenlu sedang mendalami agen pengirim tenaga kerja yang menangani kelima ABK tersebut. Perwakilan dari pihak keluarga, Samy P menyampaikan ucapan terima kasihnya atas bebasnya para ABK. Ia mengaku keluarga sempat mengalami kebuntuan dalam upaya pembebasan. 

"Dulu kami dari pihak keluarga dengan kemampuan kami yang terbatas, kami mencoba mengkonfirmasi nasib keluarga kami. Tapi infonya berbeda-beda. Syukur akhirnya mereka bebas, kami berterima kasih sekali kepada Bapak Presiden Republik Indonesia yang kebijakannya sangat memperhatikan warga negaranya," ungkap dia sembari terisak. 

Empat warga negara Indonesia (WNI) adalah  Sudirman (24 tahun) dan Adi Manurung (32 tahun) asal Medan, Supardi (34 tahun) asal Cirebon, serta Elson Pasireron (32 tahun) asal Ambon anak buah kapal (ABK). Keempatnya anak buah kapal Naham 3 milik Taiwan.

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!