Awak kapal Naham 3 korban penyanderaan Perompak Somalia usai pembebasan. (Sumber: Ocean Beyond Piracy)



KBR, Jakarta- Pemerintah mencari jalan keluar guna memberi uang kompensasi bagi para anak buah kapal (ABK) yang hampir 5 tahun disandera perompak Somalia. Menurut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu M. Iqbal, pemerintah gagal melakukan kontak dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.

Kata Lalu, perusahaan itu sudah lama bangkrut.

"Perusahaan ini sudah bangkrut. Jadi sudah tidak ada lagi pihak yang dapat menanggung terhadap mereka. Karena itu kita sudah menyampaikan concern ini kepada lembaga internasional terkait. Dan kita akan cari mekanisme untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada mereka," ujar Lalu usai konferensi pers di Kementerian Luar Negeri, Senin(31/9).

Empat ABK yang berhasil selamat dibebaskan pada Minggu (23/10) silam. Mereka dijemput setelah 4,5 tahun dalam penyanderaan. Keempatnya dibebaskan bersama puluhan sandera dari negara lain.

Saat ini, pemerintah d  masih menunggu hasil pemeriksaan kesehatan mereka keluar. Ini dilakukan untuk memastikan keempatnya tidak menderita sakit fisik maupun psikis yang serius. Selama 4 tahun para sandera harus bertahan dalam tekanan dan keterbatasan makanan.

"Nanti kalau ditemukan ada penyakit serius, akan kita rawat dulu disini sampai sembuh betl."

Lalu mengatakan dari hasil wawancara dengan para ABK, ditemukan adanya indikasi penyimpangan yang dilakukan oleh agen penyalur tenaga kerja mereka. Lalu belum mau mengungkap nama agen tersebut, namun ia memastikan sudah menyerahkan data-data temuan ke kepolisian. Nantinya, kata dia, kepolisian yang akan menindaklanjuti.

"Legal atau ga legal, ya kita ada temuanlah. Tapi nanti, jangan sekarang. Kabur dia nanti kalau kita bilang sekarang,"kelitnya.


Sebelumnya organisasi internasional The Hostage Support Partners 
mengumumkan pembebasan 26 sandera yang tersisa dari kapal  FV Naham 3. Kapal penangkap ikan berbendera Oman itu dibajak  pada 26 Maret 2012 sekitar 65 mil laut selatan dari Seychelles. Semula ada 29 awak yang disandera, satu meninggal saat pembajakan dan 2 meninggal karena sakit saat penyanderaan. 

ABK Naham 3 terdiri dari awak berkewarganegaraan  Kamboja, Cina, Indonesia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.  Empat warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi ABK adalah  Sudirman (24 tahun) dan Adi Manurung (32 tahun) asal Medan, Supardi (34 tahun) asal Cirebon, serta Elson Pasireron (32 tahun) asal Ambon anak buah kapal (ABK). 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!