2 Tahun Jokowi-JK, Menteri Susi Klaim Peningkatan Luar Biasa di Sektor Kelautan

Perbaikan itu dapat dilihat dari berbagai segi, mulai dari kondisi laut hingga hasil tangkapan nelayan. Perbaikan di sektor kelautan juga dirasakan dari kontribusinya dalam produk domestik bruto (PDB)

Kamis, 20 Okt 2016 11:16 WIB

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, saat memaparkan perkembangan sektor kelautan di masa dua tahun kepemimpinan Jokowi-JK, di Jakarta, (20/10/2016). (Foto: KBR)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta
- Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengklaim terjadi peningkatan yang luar biasa di sektor kelautan dan perikanan, dalam dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Susi mengatakan, perbaikan itu dapat dilihat dari berbagai segi, mulai dari kondisi laut hingga hasil tangkapan nelayan. Perbaikan di sektor kelautan juga bisa dirasakan dari kontribusinya dalam produk domestik bruto (PDB).

"Ternyata, kita melihat, klorofil biomass laut Indonesia naik, hasil tangkapan juga naik. Awal 2014, kalau kita lihat grafik satelit NOAA turun, tetapi sekarang mulai naik, karena kapal mulai melaut lagi. Dan hasil akhir kelihatan bahwa perikanan Indonesia, dalam dua tahun ini recovery-nya luar biasa. Ada rekomendasi tangkapan, dari 6,5 juta, sekarang kita dapat rekomendasi 9,9 juta ton," kata Susi dalam diskusi di restoran Por Que No, Menteng, Kamis (20/10/2016).

Baca: 2 Tahun Jokowi-JK, Pramono: Masyarakat Puas

Kemajuan sektor kelautan dan perikanan, utamanya dapat dilihat dari peningkatan kontribusi PDB nasional, pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2014, PDB dari sektor kelautan dan perikanan sebesar 6 persen, tetapi pada tahun berikutnya meningkat menjadi 8,36 persen.

Susi mengatakan peningkatan pada PDB itu terasa karena catatan hasil tangkapan nelayan lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, hasil tangkapan laut lebih banyak dicuri kapal asing, ketimbang dinikmati nelayan lokal.

Selain itu, kata Susi, perbaikan juga terjadi pada nilai tukar nelayan juga menjadi cerminan berkembangnya sektor perikanan Indonesia. Nilai tukar nelayan adalah perbandingan indeks harga yang diterima nelayan dan indeks harga pengeluaran nelayan.

Nilai tukar nelayan saat ini jauh lebih baik dibanding awal pemerintahan Jokowi-JK, dari sekitar 102 sekarang menjadi 110. Pada bulan September 2016 ini, kata Susi, nilai tukar nelayan bahkan menyentuh 105.84 dari bulan sebelumnya 103.66.

Hari ini (20/10/2016), tepat dua tahun lalu, Jokowi dan Jusuf Kalla dilantik sebagai presiden dan wakil presiden. Saat itu, Jokowi dan JK bersumpah mengabdi kepada negara untuk menyejahterakan rakyat, termasuk nelayan.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

KPPU Belum Temukan Indikasi Monopoli PT IBU

  • Menristek Bakal Tindak Dosen HTI Sesuai Prosedur
  • PUPR Kejar Sejumlah Ruas Trans Sumatera Beroperasi 2018
  • Kelangkaan Garam, Kembali ditemukan Garam Tak Berlogo BPOM

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.