Status Awas Gunung Agung, Polisi Buru Penyebar Hoaks Letusan

Penyebar pertama hoaks gunung agung meletus dinilai membuat resah.

Senin, 25 Sep 2017 18:54 WIB

Sejumlah warga melihat Gunung Agung dari Desa Batu Niti yang berjarak sekitar 12 kilometer dari gunung berstatus awas itu, Karangasem, Bali, Senin (25/9). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memburu penyebar informasi palsu atau hoaks, tentang meletusnya Gunung Agung di Bali. Juru Bicara Mabes Polri, Setyo Wasisto mengatakan, tim penyidik telah melakukan pelacakan terhadap penyebar info palsu tersebut.

kata dia, saat ini  bukti-bukti pesan berantai, masih dikumpulkan untuk mencari penyebar pertama.

"Kita sedang profiling, sedang mencari. Semoga saja jejak digitalnya masih ada dan terlacak oleh kita," katanya saat ditemui di Mabes Polri, Senin (25/09/17)

Juru Bicara Mabes Polri, Setyo Wasisto meminta warga untuk tidak termakan hoaks. Warga diminta untuk mengecek kebenaran sebelum membaca informasi dan menyebarkannya kembali. Sebelumnya beredar melalui pesan singkat tentang meletusnya Gunung Agung di Bali. Namun informasi itu telah dibantah oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Sementara itu Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Porwo Nugroho mengatakan frekuensi kegempaanpun gunung Agung meningkat hingga 500 kali. Dia tidak dapat memastikan apakah akan terjadi letusan dalam jangka waktu dekat.

"Artinya dari segala pengamatan instrumentasi, menunjukan ada proses magma yang mendorong ke permukaan, tetapi tersumbat batuan material yang ada di sana, ketika dorongan tadi menyebabkan terjadinya runtuhan batuan timbul gempa vulkanik dalam, ada gempa dangkal jadi meskipun sudah dinyatakan status awas belum tentu akan meletus tergantung energi yang didorong. dan kita tidak tau kapan gunung Agung akan meletus," ujar Sutopo kepada wartawan, Senin (25/09/2017).

Juru bicara BNPB Sutopo Porwo Nugroho mengatakan melalui satelit keadaan gunung Agung terlihat potensi tinggi terjadi letusan. Kata dia, sebanyak 48 ribu jiwa lebih telah mengungsi ke 300 lebih lokasi. Dia meminta warga meninggalkan daerah berbahaya radius 12 kilometer.


(Seorang warga membawa hasil kebun di Desa Batu Dawa yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Gunung Agung, Karangasem, Bali, Senin (25/9).Foto: Antara)

Sementara di pengungsian, hari ini Anak-anak mulai mengikuti pelajaran di sekolah terdekat. Di antaranya pengungsi di Lapangan Ulakan Kecamatan Manggis, Kabupaten Karang Asem, Bali. Di lokasi itu terdapat 16 tenda dengan jumlah pengungsi mencapai hampir 700 orang.



I Wayan Gede Susilo koordinator relawan posko  mengatakan anak-anak ke sekolah terdekat tanpa memakai seragam.

"Untuk anak sekolah sudah di data dari tingkat SD, SMP dan SMA/SMK mulai hari ini sudah di antar ke sekolah-sekolah. Bagi anak-anak SD sudah di antar ke sekolah SD terdekat juga anak SMP dan SMA. Walaupun tidak pakai pakaian seragam dan tidak membawa buku semua sudah di terima di sekolah. Total anak SD 43, SMP 22 dan SMA 11 orang," ujarnya.

Sementara itu salah seorang pengungsi Made Sari dari desa Jangu kecamatan Selat mengaku cukup senang berada di pengungsian. Meski begitu dia masih khawatir lantaran suaminya masih berada di desa menjaga rumah dan ternak.

Editor: Rony Sitanggang  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Pemenang Tender Beberkan Nama Anggota DPR Penerima Suap Proyek Bakamla

  • 100 Hari Anies-Sandi, FPDIP Anggap Kebijakan Penataan Tanah Abang Paling Bermasalah
  • AS Tuding Rusia Terlibat Serangan Kimia Suriah
  • Barcelona Siapkan Nomor 7 untuk Griezmann, Bukan Coutinho

Susu menjadi asupan makanan penting pertama yang dikonsumsi manusia dan diperlukan manusia sepanjang hidup, bukan hanya ketika bayi dan balita saja.