Jokowi: Bukan Politik atau Hukum, Tapi Pangan Akan Jadi Panglima Masa Depan

"Bukan politik lagi yang menjadi panglima. Mungkin bukan hukum lagi. Tapi pangan bisa menjadi panglima. Siapa yang memiliki pangan, dia yang akan mengendalikan," kata Jokowi.

Rabu, 06 Sep 2017 21:57 WIB

Presiden Joko Widodo menyampaikan orasi di Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/9/2017). (Foto: ANTARA/Arif Firmansyah)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo memperkirakan pangan akan menjadi panglima dunia di masa depan.

Dalam orasinya di depan civitas akademika Institut Pertanian Bogor (IPB), Presiden Jokowi mengatakan setiap negara akan bersaing sengit memperebutkan pangan. Karenanya, ia menekankan pentingnya mengubah paradigma dan menciptakan terobosan baru agar mampu bersaing dengan negara lain.

"Kita semua harus ingat, ke depan seluruh negara di dunia ini akan berebut pangan, energi, air. Ini kan rebutan. Tanpa ketersediaan logistik yang mencukupi, negara ini akan mudah dikalahkan, akan mudah ditundukkan. Karena ke depan, menurut saya, bukan politik lagi yang menjadi panglima. Mungkin bukan hukum lagi. Tapi pangan bisa menjadi panglima. Siapa yang memiliki pangan, dia yang akan mengendalikan," kata Jokowi dalam acara Dies Natalis ke-54 IPB, Bogor, Rabu (6/9/2017).

Baca juga:


Jokowi menambahkan, sudah saatnya sektor pertanian tidak lagi fokus pada produksi saja, tetapi mulai beralih pada agrobisnis. Petani harus didorong membentuk korporasi, bekerja sama dari hulu hingga hilir, dari produksi hingga pemasaran.

Tanpa adanya korporasi petani, kata Jokowi, mereka akan sulit mendapat kesejahteraan. Hal ini ditunjukkan dalam nilai tukar petani (NTP) yang tidak kunjung meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) hanya naik 0,94 persen pada Agustus 2017 dibanding bulan sebelumnya.

"Kalau kita tidak mengkonsentrasikan bagaimana menaikkan keuntungan petani dengan nilai tukar petani yang selalu harus kita lihat, nggak ada artinya yang namanya pupuk dan benih," kata Jokowi.

Jokowi meminta IPB berperan aktif mendongkrak kesejahteraan petani dengan cara menawarkan terobosan-terobosan baru. Ia mendorong IPB juga cepat beradaptasi dengan perubahan dunia yang cepat. IPB perlu membuka fakultas atau jurusan baru yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan saat ini

"Kenapa tidak ada manajemen retail, manajemen logistik? Itu kebutuhannya sangat besar sekali negara ini. Sehingga sistem logistik nasional bisa kita tata kalau SDM-nya itu siap," tambah Jokowi.

Ia sempat menyindir banyaknya alumni IPB yang justru tidak berkarya di sektor pertanian.

"Mahasiswa IPB banyak yang bekerja di bank. Saya cek direksi-direksi perbankan, BUMN, itu paling banyak dari IPB. Manajer-manajer tengah banyak berasal dari IPB. Terus yang ingin jadi petani siapa?" ucap Jokowi.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Polisi Buru Penyebar Hoaks Gunung Agung Meletus

  • Frekwensi Kegempaan Gunung Agung Meningkat
  • Anak-anak Pengungsi Gunung Agung Mulai Belajar di Sekolah Terdekat
  • Pansus Angket KPK Akan Sampaikan Laporan Sementara Besok