Menteri BUMN Rini Soemarno, Kepala Bulog Djarot Kusumayakti, Wakil Ketua DPR Herman Khaeron dalam acara sosialisasi daging sehat dan murah di Perum Bulog. Foto: KBR



KBR, Jakarta - Pemerintah meluncurkan daging kerbau impor dari India. Menteri BUMN, Rini Soemarno mengatakan, daging kerbau tersebut merupakan realisasi dari izin impor 10 ribu ton yang dikantongi Perum Bulog.

Kata dia, daging dipastikan telah melalui proses karantina dan mendapat sertifikasi halal dari MUI. Ditargetkan 10 ribu ton daging kerbau seluruhnya masuk ke Jakarta bulan ini.

"Waktu itu memang pertama prosesnya makan waktu, karena kita juga harus mendapatkan sertifikasi darii MUI. Jadi anggota MUI sudah ke India, melihat sendiri bagaimana pemeliharaannya, bagaimana pemotongannya kemudian harus melalui karantina. Syukur semua sudah bisa dilewati, sudah mendapatkan sertifikasi halal dan ternyata memang daging kerbau ini yang tadi dikatakan, lebih rendah kolesterolnya, lebih tinggi proteinnya," kata Rini di Perum Bulog, Jumat (2/9/2016).

Rini Soemarno menambahkan, harga jual daging kerbau impor tersebut dipatok sebesar  Rp65 ribu perkilogram. Kata dia, diharapkan dengan masuknya daging ini mampu menekan harga daging sapi di pasar.

"Daging sapi itu kan sebelumnya kebanyakan Rp120 ribu, memang kita coba, dengan kita impor dari Austrailia Rp80 ribu sampai Rp85 ribu, tapi cukup berat juga. Ternyata kita bisa mendapatkan kerbau dari India, di pasar itu Rp65 ribu/kilogram, kami harapkan masyarakat lebih bisa membeli," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi Pertanian DPR, Herman Khaeron mengaku mendukung langkah pemerintah mengimpor daging kerbau. Kata dia, ini merupakan salah satu tugas pemerintah untuk mengintervensi pasar dan menurunkan harga.

"Tentu sebuah kewajiban negara untuk memberikan intervensi manakala harga itu baik, jadi menurut saya wajar-wajar saja seperti ini, tinggal bagaimana atensi dan juga respon dari pasar," kata dia.

Namun, ia meminta pemerintah juga tidak terus menerus melakukan impor dengan fokus mengupayakan swasembada daging.

"Tadi Bu Rini (Soemarno), sempat berbisik, Pak Herman, ke depan kerbau ini kita budayakan di Indonesia, saya kira ini adalah sebuah masa depan yang baik untuk menuju swasembada daging," lanjut politisi Partai Demokrat ini.

Sebelumnya, Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) telah menyurati pemerintah untuk memprotes impor daging kerbau dari India. Sekjen PPSKI, Rochadi Tawaf mengatakan, pemerintah dinilai tidak etis dengan melakukan impor.

Sebab, aturan terkait hal itu (UU nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 36) masih dalam proses uji materi (judicial review) di Mahkamah Konstitusi (MK). Menurutnya, pemerintah seharusnya membatalkan impor dan menunggu putusan MK.

"Secara yuridis mungkin sah, tapi secara etika, pemerintah itu tidak etis melakukan impor dari India sementara cantolan hukumnya sedang di-judicial review, makanya PPSKI mungkin besok lusa, Senin ini, akan mengirim surat, ke Menko Ekuin, Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan untuk menghargai keputusan MK, kita tunggu hasilnya ini, karena sedang di-JR oleh PPSKI," kata Rochadi ketika dihubungi KBR, Sabtu (9/7/2016).

PPSKI mengajukan uji materi terkait pasal yang menentukan pengimpor berbasis zona, bukan berbasis negara (country base). Pasal ini memungkinkan pemerintah mengimpor daging negara yang tidak bebas penyakit mulut dan kuku serta penyakit lainnya. Sementara, pemerintah belum memenuhi persyaratan internasional untuk melakukan importasi berbasis zona.

"Kalau zona itu diberlakukan, Indonesia harus punya laboratorium, dokter hewan yang cukup, dana tanggap darurat, banyak persyaratan internasional kesehatan hewan, tapi itu tidak bisa dipenuhi," ujar Rochadi.

Rochadi menyebut India termasuk negara yang tidak memiliki zona bebas penyakit menurut data Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) Mei 2016. Ini artinya rentan terjadi penularan penyakit yang bakal merugikan peternak lokal. Ia menyebut, sudah banyak kasus penularan penyakit pada ternak lokal yang akibat kerbau selundupan dari India.

"Banyak penyakit yang sudah beredar di sini. Kalau ternak kena penyakit, produksi turun, ada hitung-hitungan (kerugian) ada kali sekitar 20 triliyun pertahun," jelasnya.

Baca juga:
Kementan Pastikan Daging Impor dari India Aman Dikonsumsi dan Halal
Pemerintah Bakal Perluas Impor Daging Kerbau





Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!