Ongkos Proyek Masela Turun, Begini Jelas Luhut

Perkiraan biaya investasi Blok Masela tersebut sudah memperhitungkan harga minyak yang saat ini berkisar USD 50/barel

Selasa, 13 Sep 2016 16:10 WIB

Menko Maritim, Luhut Pandjaitan. Foto ANTARA

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sementara, Luhut Binsar Pandjaitan berkeras penurunan biaya investasi Blok Masela menjadi USD 15,5 miliar dari 22 miliar berkat Archandra Tahar. Archandra adalah bekas Menteri ESDM yang dipecat Presiden Jokowi usai status kewarganegaraannya terungkap ke hadapan publik. Penghitungan itu dibuat Arcandra usai bertemu dengan operator Blok Masela, Inpex Corporation pada akhir Juli.

Baca juga:


Luhut menjelaskan, perkiraan biaya investasi Blok Masela tersebut sudah memperhitungkan harga minyak yang saat ini berkisar USD 50/barel. Selain itu, pemangkasan biaya juga dilakukan terhadap sejumlah pos, seperti biaya pengadaan pipa gas dan manajemen risiko. 

"Dulu dibuat USD 22 miliar itu dengan menghitung harga minyak yang sekarang. Jadi USD 22 miliar dengan kondisi harga minyak yang sudah rendah. Sekarang kami minta, bisa tidak Inpex membuat hitungan baru dan hitungan baru pasti di bawah USD 22 miliar," ungkap Luhut di kantor Kementerian Koordinator Bidang Maritim, Selasa (13/09/16).

Baca juga:


Meski begitu, besaran biaya investasi pengembangan Blok Masela belum dapat dipastikan. Lantaran revisi Plan of Development (POD) terhadap lapangan gas abadi tersebut masih berjalan. "Tepatnya berapa? Kita tunggu POD, karena masih bekerja sama dengan SKK Migas," kata Luhut.

Baca juga:


Luhut menargetkan proses revisi POD itu selesai dalam 8 bulan. "Tidak ada masalah, tinggal mereka siapkan PODnya. Kalau boleh POD selesai 8 bulan, jangan setahun. Mereka (Inpex) siap," imbuhnya. (dmr)
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jepang Jadi Pendana Kereta Semi-Cepat Jakarta-Surabaya

  • KLHS Pegunungan Kendeng Rampung Disusun
  • KKP Klaim 3 Tahun Belakangan Stok Ikan Meningkat
  • KPU: Belum Ada Bakal Pasangan Calon Pilkada Kota Bandung yang Lengkapi Persyaratan

Satu keluarga bisa jadi kesulitan makan, yang lain punya kelebihan makanan.