Makam tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay di Distrik Sentani, Jayapura, Papua. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta
- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan investigasi terhadap kasus pembunuhan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay pada 2001 lalu masih berlangsung.

Ketua Komnas HAM Nurcholish mengatakan tim investigasi mereka sudah bekerja selama 2 bulan.

"Kasus Theys dan beberapa kasus yang di Papua, itu komitmennya dengan pemerintah dicoba diselesaikan. Pemerintah membuat tim Gugus Papua dan Komnas HAM juga membuat tim sendiri. Perkembangan yang di Kemenko Polhukam itu seperti apa kita kurang tahu," jelas Nurcholis saat dihubungi KBR, Rabu (21/9/2016).

Atas dasar itu, Nurcholish menyayangkan pengangkatan Gubernur Akademi Militer (Akmil) Mayjen Hartomo sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI karena kasus pembunuhan Theys masih dalam investigasi Komnas HAM.

Hartomo merupakan salah satu dari empat terpidana pembunuh Theys Hiyo Eluay. Dalam sidang Mahkamah Militer Tinggi III di Surabaya pada 2003, Hartomo divonis 3,5 tahun penjara serta sanksi pemecatan.

Saat peristiwa pembunuhan Theys, Hartomo berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat Komandan Satgas Tribuana X di Jayapura, Papua.

Baca juga:

Melukai Keluarga Theys

Ketua Komnas HAM Nurcholis mengatakan Komnas HAM akan mengeluarkan sikap resmi terkait pengangkatan ini. Ia mengatakan pengangkatan Hartomo akan melukai keluarga korban dan masyarakat.

"Dalam waktu dekat, Komnas HAM akan menyampaikan sikap resmi nantinya. Tapi kita mungkin lebih konsentrasi pada penyelesaian kasusnya. Mungkin ada kaitannya dengan pengangkatan Hatomo sebagai Ka BAIS. Secara hukum tidak ada yang dilanggar, tetapi secara moral menurut saya, itu bermasalah. Publik terutama keluarga korban tentu akan keberatan dengan pengangkatan ini, menyakiti hati mereka," kata Nurcholis saat dihubungi KBR, Rabu (21/9/2016).

Baca: DPR Sesalkan Pengangkatan Terpidana Pembunuhan Theys Sebagai Kabais

Pembunuhan Theys

Sebelumnya, pada 10 November 2001, Theys Hiyo Eluay dan sopirnya Aristotels Masoka dikabarkan hilang dan diculik oleh orang tak dikenal. Sehari kemudian Theys ditemukan tewas di dalam mobil di daerah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Sementara sopirnya Aristoteles Masoka sampai sekarang belum ditemukan.

Kepala Komandan Satgas Tribuana 10 di Papua, Hartomo diadili atas keterlibatannya dalam pembunuhan Theys. Selain Hartomo, ada tiga orang tentara lain yang juga divonis 3,5 tahun dan dipecat dari kedinasan militer karena terlibat pembunuhan Theys Eluay.

Meski divonis bersalah dan dipecat, karir Hartomo di militer tidak terhenti.

Perwira TNI Angkatan Darat dari kesatuan Kopassus itu bahkan terus dipromosikan naik jabatan. Pada 2009 ia ditugasi menjadi Komandan Grup I/Parako di Kopassus. Lalu naik menjadi Komandan Resimen Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD).

Pada 2011 ia menempati pos baru sebagai Komandan Pusat Pendidikan Infanteri Pusat Persenjataan Infanteri, Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Danpusdik Pussenif Kodiklat TNI AD).

Ia sempat menduduki jabatan Komandan Pusat Intelijen TNI Angkatan Darat serta pernah menjadi Gubernur Akademi Militer.

Pada 16 September 2016, Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengangkat Hartomo sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!