Presiden Joko Widodo. (Foto: setkab.go.id)



KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo kesal dengan aparat pemerintah pusat maupun daerah yang terlalu berorientasi pada prosedur birokrasi ketimbang terjun ke lapangan.

Menurut Presiden Jokowi, sekitar 70 hingga 80 persen aparat pemerintah menghabiskan waktu mengisi laporan-laporan di kantor.

Jokowi mencontohkan pegawai di Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Pertanian kerap mengabaikan kerja lapangan karena sibuk mengisi surat pertanggungjawaban (SPJ).

"PU itu kan harusnya konsentrasi 80 persen, mengngontrol jalan, mengontrol irigasi-irigasi yang rusak, mengecek jalan yang berlubang seperti apa. Tapi kalau kita lihat sekarang, coba kita lihat. Orang takut semuanya dengan yang namanya SPJ," kata Jokowi pada peresmian pembukaan Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah tahun 2016 di Istana Negara, Selasa (20/9/2016).

"Di pertanian, dulu kita lihat setiap pagi, para pengawas pertanian lapangan, berjalan di pematang sawah. Bercengkerama dengan petani, memberikan bimbingan ke petani. Sekarang? Semua duduk manis, di meja, di ruangan ber-AC, mengurusi SPJ," kata Jokowi.

Hal yang sama juga banyak terjadi di lembaga pendidikan. Jokowi mengatakan banyak guru dan kepala sekolah yang memakai waktu belajar-mengajar untuk mengisi laporan pertanggung jawaban.

"Sekarang banyak guru dan kepala sekolah tidak fokus, tidak konsentrasi pada kegiatan belajar mengajar, karena mengurus SPJ. Saya lihat di sekolah-sekolah itu, SPJ. Saya lihat di ruangan guru, kuitansi-kuitansi SPJ, itu pasti," lanjutnya.

Jokowi meminta prosedur laporan keuangan dibuat tidak bertele-tele, tetapi efektif, transparan dan akuntabel.

"Prosedurnya mengikuti, iya. Tapi orientasinya adalah hasil, dan prinsip-prinsip ini harus bisa diwujudkan secara konkret dalam laporan keuangan yang berkualitas, handal dan tepat waktu," ujar dia.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!