Puluhan mahasiswa dan nelayan melakukan aksi unjuk rasa menolak reklamasi teluk Jakarta di depan kantor Menko Maritim di Jakarta, Selasa (13/9). Foto: ANTARA



KBR, Jakarta - Hutomo Manda Putra atau Tommy Soeharto membantah telah menawarkan bantuan berupa beasiswa kepada nelayan Muara Angke, Jakarta Utara. Bantuan itu ditujukan agar nelayan menghentikan aksi demonstrasi menolak reklamasi 17 pulau buatan di Teluk Jakarta.

Saat ditemui usai mendaftarkan asetnya ke Kantor Wajib Pajak Besar siang tadi, Tommy tak banyak berkomentar.

"(Benarkah Anda mengumpulkan nelayan pertengahan Agustus?) Saya kira itu di luar acara kita hari ini ya. Lain kali saja. (Benarkah ada pertemuan dengan nelayan Agustus lalu?) Ah, nggak ada. (Benar menawarkan bantuan?) Enggak,"ujarnya singkat, Kamis(15/9/2016).

Sebelumnya, Hutomo Mandala Putra dikabarkan mengumpulkan sejumlah tokoh nelayan penolak reklamasi Teluk Jakarta. Pertemuan disebut berlangsung di kantor Tommy, Humpuss Group, lantai 9 gedung Granadi di Rasuna Said.

Tommy disebut mengajukan sejumlah tawaran agar nelayan berhenti menolak reklamasi dan justru berbalik mendukung. Imbalan yang ditawarkan adalah beasiswa senilai Rp 1 juta kepada setiap nelayan dan bantuan dalam pengurusan sertifikat tanah dan rumah yang didiami nelayan. Anggota Keluarga Cendana ini juga menjanjikan akan membantu pembuatan alur kapal nelayan dan tanggul.

Tawaran tersebut disebut telah memecah kubu nelayan. Beberapa nelayan mulai goyah dan berbalik mendukung proyek ini dilanjutkan.

Dia juga disebut berkepentingan dalam proyek ini. Selain karena memiliki saham di beberapa perusahaan pengembang reklamasi, perusahaannya  PT Manggala Krida Yudha juga disebut berniat memegang reklamasi Pulau L dan M.

Baca juga: Reklamasi Teluk Jakarta, Menko Luhut Klaim Tidak Ada Pihak yang Dirugikan


Sementara itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan berkeras melanjutkan proyek reklamasi Teluk Jakarta mesti ditentang Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Luhut mengklaim reklamasi pulau G sudah didasarkan pada pertimbangan lingkungan. Dia meyakini proyek reklamasi ini justru bisa menyelesaikan masalah air dan tanah di Jakarta.

"Kepentingan nasional. Kepentingan DKI. Karena kalau itu tidak dilanjutkan yang sudah dibuat dari zamannya Pak Harto itu, Jakarta itu tiap tahun 7,5 cm turun. Satu. Itu giant sea wallnya. Kedua, sumber air kita juga kurang. Kalau bendungan jadi, maka itu dari hasil penelitian 2 meter di bawah air asin sisanya di atas air yang bisa nanti diproses jadi air minum DKI," kata Luhut di DPR, Rabu (14/9/2016).

Luhut juga mengaku sudah menggunakan pertimbangan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), KLHK, dan PLN. Sementara kajian Bappenas sendiri menurutnya akan diikutsertakan begitu rampung Oktober mendatang.

Namun begitu, Nelayan Muara Angke mengancam bakal melakukan aksi besar-besaran lagi di lokasi reklamasi Teluk Jakarta apabila Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengembang melanjutkan reklamasi. Perwakilan Nelayan, Saefudin mengatakan, rencananya aksi juga bakal melakukan pembakaran kapal dilokasi Pulau G.

"Kita pokoknya bakalan aksi lagi kalau kapal-kapal reklamasi keliatan sama kita mulai masuk ke lokasi reklamasi, kita bakal bakar kapal lagi di sana nanti kalo masuk pokoknya," ucapnya kepada KBR di rumahnya di Muara Angke, Jakarta Utara, Rabu (14/09).

Saefudin mengklaim semua warga Muara Angke mengaku kecewa dengan keputusan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan yang bakal melanjutkan reklamasi teluk Jakarta beberapa waktu lalu. Seharusnya kata dia, Pemerintah menghormati proses hukum yang tengah berlangsung soal gugatan reklamasi tersebut. Kata dia, pihak Pemerintah saat ini tengah mengajukan banding usai pihaknya memenangi gugatan di PTUN, Jakarta Timur.

Baca juga: Reklamasi Pulau G Lanjut, Nelayan Ancam Bakar Kapal





Editor: Quinawaty

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!