Petugas gabungan menggunakan alat berat mencari korban banjir di Garut yang masih dinyatakan hilang (24/9/2016). (Foto: ANTARA)



KBR, Jakarta - Status tanggap darurat di Garut, Jawa Barat diperpanjang hingga 14 hari ke depan.

Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, semestinya status tanggap darurat berakhir pada hari ini (27/9/2016).

Perpanjangan status tanggap darurat disebabkan lantaran masih ada korban yang dinyatakan hilang, bangunan-bangunan yang rusak, dan juga warga yang mengungsi.

Sutopo mengatakan status perpanjangan tanggap darurat itu telah dikoordinasikan dengan pemerintah setempat.

"Kondisinya masih butuh penanganan darurat. Masih ada 19 orang dinyatakan hilang, masih banyak juga rumah-rumah yang rusak, begitu juga fasilitas umum masih mengalami kerusakan. Dengan adanya status tanggap darurat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat mempunyai kemudahan akses dalam pengerahan SDM, pemberian logistsik, peralatan, pendanaan, dan lain sebagainya," kata Sutopo, Selasa (27/9/2016).

Baca: Kapolri Perintahkan Usut Penyebab Banjir Garut

Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, apabila status tanggap darurat dicabut maka proses pendanaan terkait penanganan pasca-bencana akan terhambat.

Hal ini lantaran dana penanganan pasca-bencana menggunakan dana dari APBN maupun APBD, yang proses pencairannya butuh mekanisme yang panjang.

Pencarian Korban Terus Dilakukan

Sementara itu, tim gabungan hingga kini juga masih terus mencari 19 orang yang dinyatakan hilang.

Hari ini, pencarian 19 korban yang masih hilang akan difokuskan di wilayah Waduk Jati Gede Kabupaten Sumedang.

"Wilayah pencarian korban hilang diperluas hingga 40 kilometer dari Garut ke bagian hilir," kata Sutopo.

Baca: Pencarian Korban Banjir Garut Diperluas

Pencarian akan menggunakan perahu karet, namun bisa dipastikan upaya ini akan terkendala oleh banyaknya sampah dan kayu yang masih berserakan.

"Selain fokus pada pencarian korban, tim SAR juga sudah memfokuskan upaya pembersihan, khususnya di daerah Cimacan," kata Sutopo.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!