Warga korban banjir bandang beristirahat di Posko pengungsian Korem 062/Tarumanagara, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (21/9). (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk rusak parah. Hal itu menyebabkan sedimentasi yang cepat di muara sungai Cimanuk yang ada di Laut Jawa.

Menurut Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, sedimentasi yang terjadi disebabkan karena pinggiran sungai yang sudah berubah fungsi. Mulai dari permukiman hingga tanah pertanian dan perkebunan.

Kata Sutopo, sedimentasi yang terjadi di DAS Cimanuk lebih tinggi dari sungai Brahma dan Gangga di India.

"Kondisi ini menyebabkan rata-rata sedimen tahunan yang terdeposisi di muara sungai Cimanuk, di laut utara Jawa 12.7 juta meter kubik pertahun. 60 kali lipat dari pada sedimentasi sungai Gangga dan Brahma di India. Tadi malam menunjukkan suatu bukti bahwa DAS sudah sedemikian rusak. Bisa kita lihat dari indikator koefisien rezim sungai. Yang terjadi saat ini koefisien rezim sungai di Sungai Cimanuk itu mencapai 713 paling besar dibandingkan sungai-sungai lain di Jawa," jelas Juru bicara BNPB Sutopo Purwonugroho.

Sutopo memberikan contoh ciri-ciri Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rusak adalah jika terjadi hujan dengan intensitas besar maka debit air akan meningkat drastis sehingga meluber ke daerah pinggiran sungai. Selain itu, apabila hujan reda, maka luberan air akan cepat mengering. Selain itu, pada musim kering juga kering.

"Sungai Cimanuk sudah sakit dan tidak sehat. Mulai dari kualitas air dan parameter hidrologinya. Sungai Cimanuk sudah sangat sakit. Termasuk kepadatan penduduknya. Itu yang menyebabkan begitu hujan mudah terjadi bencana dan banjir," jelasnya.


Bendungan

Organisasi lingkungan Walhi Jawa Barat menilai banjir bandang Garut akibat dibangunnya dua bendungan yang menahan laju air yang seharusnya mengalir ke daerah Indramayu, Majalengka dan Cirebon.  Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat  Dadan Ramdan menyebut  Bendungan Jatigede dan Bendungan Copong  menghambat aliran Sungai Cimanuk dari hulu. 


"Penilaian kita terhadap kondisi ini di satu sisi, perkotaan Garut itu sebagai cekungan yang sangat dipengaruhi oleh daerah tangkapan air atasnya. Di satu sisi, di daerah hilir ini dibendung oleh dua bendungan yang itu pasti akan menghambat laju aliran sungai Cimanuk. Karena tertahankan. Bagaimanapun juga dibendung ditahan, keluarnya tidak akan sebesar dulu, sebesar kapasitas air sebelum ada bendungan," papar Dadan kepada KBR, Rabu (21/9/2016).

Dadan menambahkan, kerusakan lingkungan yang tengah terjadi di Garut juga dipengaruhi oleh tekanan pembangunan pariwisata di kawasan dataran tinggi seperti di Papandayan dan Cikajang. Sementara, pembangunan di dalam perkotaannya  menyebabkan sedimentasi anak-anak sungai, serta alih fungsi lahan persawahan sebagai parkir-parkir air menjadi permukiman dan sarana komersil. 

"Dalam jangka pendek ini korban tetap harus ditangani ini peran Pemerintah daerah, Provinsi dan Kabupaten untuk emergency response. Dalam jangka panjang tetap harus ada evaluasi terhadap kebijakan rencana tata ruang wilayah. Termasuk mengevaluasi  keberadaan dua bendungan itu, Copong dan Jatigede. Karena banjir terjadi seperti ini belum pernah ada. Walaupun ada banjir di Garut tapi skalanya tidak sebesar ini," tegasnya.


Banjir bandang di Garut Jawa Barat mengakibatkan 20 warga tewas dan belasan masih belum ditemukan. Banjir juga mengakibatkan rusaknya bangunan dan membuat ratusan keluarga mengungsi.


Editor: Rony Sitanggang 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!