Bencana di Garut, BPBD Minta 2 Alat Pendeteksi Banjir

"Cuma masalahnya beberapa hari terakhir ini rada anomali cuaca. Jadi kemungkinan tidak bisa diprediksi."

Kamis, 22 Sep 2016 14:18 WIB

Dampak banjir Garut, Jawa Barat. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Garut membutuhkan minimal dua alat pendeteksi dini banjir. Alat  itu bisa dipasang di beberapa titik yang menjadi penyumbang aliran sungai. Seperti di Bayongbong dan Gandasari.

Selama ini, kata Kepala Bidang Pencegahan BPBD Garut Ade Rusiyana, perkiraan bencana banjir selalu mengandalkan laporan kondisi cuaca Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan laporan masyarakat dari hulu sungai Cimanuk. Namun karena anomali cuaca terjadi di Garut, BPBD kesulitan melakukan pencegahan dini bencana banjir.

"Kita update terus BMKG laporan ke kita. Cuma  masalahnya beberapa hari terakhir ini rada anomali cuaca. Jadi kemungkinan tidak bisa diprediksi. Kita membahas juga peralatan-peralatan yang dipasang baik oleh BMKG atau yang berwenang dari daerah aliran sungai, untuk melihat debit lajunya," ujar Ade kepada KBR, Kamis (22/9/2016).

Ade menambahkan, dari laporan masyarakat biasanya langsung dilakukan pemantauan.

"Minimal dua kita bayongbong menyumbang beberapa  kecamatan. Tambah lagi gandasari karena akan ada rusun, dua tempat itu bisa sedikit ada waktu untuk pemberitahuan evakuasi," katanya.

Ade mengaku saat ini   sudah mengajukan permintaan alat-alat pendeteksi kepada BNPB. Garut, kata Ade punya alat pendeteksi debit air yang dipasang di pinggir sungai Cimanuk. Sayangnya alat itu sudah tak aktif.

"Itu disimpan di pinggir sungai. Berfungsinya, jadi kalau ada air yang lewat itu akan berputar kecepatan, debit dan tingginya air," ungkapnya.

Kedepan, kata Ade, BPBD juga akan melakukan revitalisasi daerah aliran sungai Cimanuk yang diperkirakan mengalami kerusakan cukup parah

Terkait korban meninggal akibat banjir bandang di Garut, catatan BNPB hingga Rabu malam tadi menyebut korban tewas berjumlah 23 orang, sedangkan 18 lainnya belum ditemukan. Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan, pencarian korban terus dilakukan oleh tim gabungan. Selain itu, upaya pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana seperti makanan, hunian dan air bersih juga terus dilakukan.

Sementara itu, dari pantauan KBR, di pengungsian, beberapa kegiatan  trauma healing sudah mulai dilakukan para relawan, baik dari tim kesehatan maupun mahasiswa. Kegiatan ini, menurut Kontributor KBR di Garut Sigit Zulmunir, diberikan kepada anak-anak.

"Sasaran kegiatan trauma healing lebih diarahkan kepada anak-anak. Kegiatan itu dilakukan diantaranya permainan kecil, bernyanyi, games untuk menghibur anak-anak," ujarnya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pecah Antrian, PT ASDP Merak Pisahkan Kendaraan Pemudik Dengan Kendaraan Niaga

  • Desa Sambirejo Timur Tolak Jenazah Pelaku Teror di Mapolda Sumatera Utara
  • Pengamat: Eks ISIS Harus Direhabilitasi Sebelum Kembali ke Masyarakat
  • Lima Hari Bertugas, Dokter Anestesi Ditemukan Meninggal Dunia

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?