Swasensor atas atlet renang PON dalam sebuah program televisi. Foto: twitter.com


KBR, Jakarta- Komisi Penyiaran Indonesia akan mengundang  seluruh stasiun televisi, untuk berdiskusi mengenai aturan pemburaman pada tayangan televisi.

Ini dilakukan untuk menyikapi stasiun televisi yang melakukan swasensor atau pemburaman pada gambar seorang atlet PON yang menggunakan pakaian renang dalam salah satu program siaran mereka.

Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPI, Hardly Stefano menjelaskan, saat ini banyak lembaga penyiaran yang masih belum memahami aturan mengenai pemburaman dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 SPS).  

"Terkait dengan hal tersebut (pemburaman), bukan hanya di olahraga. Tapi juga berkaitan dengan beberapa hal yang lain, maka KPI dalam waktu dekat akan mengundang seluruh lembaga penyiaran, khususnya televisi untuk menyamakan persepsi. Ini dilakukan agar tayangan di televisi kita tidak dipenuhi oleh pemburaman, lalu kemudian mengurangi estetika dan kenyamanan pemirsa televisi. Nantinya akan dibuat semacam konsensus," katanya ketika dihubungi KBR melalui sambungan telepon, Selasa (20/9/2016).

Ia menambahkan, KPI juga akan memperingatkan lembaga penyiaran agar secara teknis pengambilan gambar dilakukan dengan baik, sehingga tidak terkesan melakukan eksploitasi tubuh, khususnya atlet perempuan.

"Dalam Undang-undang Penyiaran sudah dijelaskan teknisnya seperti apa," kata Hardly lagi.

Sebelumnya  CNN Indonesia menayangkan profil atlet Pekan Olahraga Nasional cabang renang yang disiarkan dalam Program Sport CNN Indonesia, Sabtu, 17 September 2016 di saluran TV berbayar, Transvision. Dalam tayangan itu atlet renang terlihat diblur saat diwawancara. Praktek  swasensor ini kemudian mendapat kecaman netizen. Mereka menilai,  pemburaman yang dilakukan CNN Indonesia terlalu berlebihan. CNN telah meminta maaf kepada publik atas insiden itu.

Editor: Malika

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!