Anak Korban Perkosaan di Jambi Diputus Bebas, ICJR: Masih Perlu Pendampingan

Bocah perempuan korban perkosaan di Jambi, WA akhirnya bebas dari hukuman penjara.

Selasa, 28 Agus 2018 20:34 WIB

Ilustrasi: Poster dalam aksi tolak kekerasan seksual terhadap anak-anak dan perempuan. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Bocah perempuan korban perkosaan di Jambi, WA akhirnya bebas dari hukuman penjara. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jambi membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama yang memvonis anak usia 15 tahun itu dengan hukuman enam bulan penjara.

Putusan yang dibacakan pada Senin (27/8/2018) itu membuat lega koalisi masyarakat sipil. Salah satunya lembaga riset Institute for Criminal Justice Reform (ICJR). Peneliti ICJR, Maidina Rahmawati menuturkan, sudah selayaknya anak korban perkosaan tak dipidana. Sebab tindakan korban merupakan buah dari paksaan.

"Pengadilan Tinggi Jambi memutus perkara ini sesuai argumen kami. Yang kedua, bahwa dia memang benar melakukan aborsi cuma dia melakukannya karena pengaruh daya paksa. Sehingga kalau ada daya paksa seharusnya tidak ada unsur kesalahan," jelas Maidina saat dihubungi KBR, Selasa (28/8/2018).

"Kalau dia perbuatannya terbukti tetapi tidak ada unsur kesalahan, itu putusannya lepas. Kami apresiasi," lanjut Maidina.

ICJR mengapresiasi keberanian majelis hakim Pengadilan Tinggi Jambi dalam mengambil langkah dengan mempertimbangkan unsur "daya paksa" dalam kasus ini. Menurut Maidina, hal tersebut diatur dalam Pasal 48 KUHP yang berbunyi "Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana".

Baca juga:

Maidina menuturkan, terkait penggunaan Pasal 48 KUHP untuk kasus aborsi, putusan atas kasus WA ini bisa dijadikan pijakan untuk penegakan hukum dan peradilan di Indonesia. Sebab selama ini seringkali korban dipandang tidak seimbang, utamanya bagi perempuan dan untuk kasus seperti aborsi.

Sebelumnya, Hakim Pengadilan Negeri Muara Bulian memvonis WA dengan hukuman enam bulan penjara. Pada vonis tingkat pertama itu, WA diputus bersalah karena menggugurkan janin dengan bantuan sang ibu. Kehamilan WA akibat diperkosa kakak kandungnya, berinisial AA. Bocah perempuan itu diperkosa 8 kali dan diancam untuk tidak membocorkannya. AA yang juga masih usia anak itu divonis dua tahun penjara atas kejahatan perkosaan.

Sementara kini, ICJR belum dapat memastikan nasib hukuman yang diterima ibu WA. Pasca-pembebasan WA, ICJR menganggap perlu ada pendampingan khusus untuk pemulihan trauma. Maidina juga meminta kementerian dan lembaga terkait memberikan perlindungan dan penanganan medis serta psikologis bagi WA.

"Anak perlu dijamin hak untuk direhabilitasi serta mendapatkan ganti rugi atas proses pidana yang selama ini telah berjalan berdasarkan ketentuan dalam KUHAP," tutup Maidina.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".