Saksi Kunci e-KTP Tewas, Ketua KPK: Penyidikan Tak Terganggu, Kita Dibantu Gusti Allah

"Dia adalah Warga Negara Amerika, jadi perlindungan di sana. Kami melakukan perlindungan (saksi) kalau dia di Indonesia."

Minggu, 13 Agus 2017 18:07 WIB

KBR, Jakarta - Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan penyidikan dugaan korupsi megaproyek KTP berbasis elektronik (e-KTP) tak terhambat meski saksi kunci, Johannes Marliem dikabarkan meninggal. Pasalnya, pemeriksaan terhadap Marliem pun kata Ketua KPK Agus Rahardjo sudah beberapa kali dilakukan.

"Insyaallah tidak mengganggu.. Insyaallah tidak. (Sudah mengantongi bukti dari Marliem?) Allah maha besar, kita dibantu oleh Gusti Allah," kata Agus saat dihubungi KBR, Minggu (13/8/2017).

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarief menolak menjelaskan, ketika ditanya apakah seluruh informasi telah didapat dari pemeriksaaan Marliem. Dia hanya mengatakan Marliem termasuk salah satu saksi yang sudah diperiksa KPK.

"(Apa dari pemeriksaan sudah didapat semua keterangan yang diperlukan termasuk data yang dimiliki Marliem?) Saya tidak bisa bicarakan itu, saya tidak bisa kemukakan. Tapi dia termasuk saksi."

Baca juga:

Namun begitu, KPK menurut Syarief memang tidak berwenang mengurus jaminan perlindungan saksi terhadap Marliem.

"Dia adalah Warga Negara Amerika, jadi perlindungan di sana. Kami melakukan perlindungan (saksi) kalau dia di Indonesia."

Informasi mengenai kematian saksi kunci e-KTP, Johannes Marliem resmi diterima KPK dari otoritas Amerika Serikat pada Jumat (11//8) pagi. "Sebelum ribut-ribut kami sudah menerima (informasi)," tutur Agus Rahardjo.

Kendati, kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarief, pemberitahuan itu belum disertai dengan penyebab kematian Marliem. Hingga kini menurutnya, penyelidikan oleh otoritas negera itu pun masih dilakukan.

"Detailnya (soal penyebab kematian) kami belum terima, tapi FBI sudah melaporkan kepada kami tentang kematian Johannes Marliem," ungkap Syarief.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang