Garam Impor, KKP: Tak Jatuhkan Harga Petambak

"Untuk menstabilkan harga dan tidak mengganggu pendapatan petambak garam. Distribusi dari importasi PT Garam itu tidak sampai menjatuhkan harga petani,"

Jumat, 11 Agus 2017 08:25 WIB

Ilustrasi: Petani garam di NTT. (Foto: KBR/Heinrich D.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan memastikan harga jual garam impor   tak akan jauh berbeda dibanding garam lokal yang diproduksi petambak. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti mengatakan, dia sudah meminta komitmen PT Garam sebagai pengimpor sekaligus distributor garam tersebut.

Kata dia, garam impor itu tak akan menekan harga jual garam produksi petambak hingga kemudian mematikan pasarnya.

"Saya sudah sampaikan pada rapat minggu lalu untuk PT Garam agar mendistribusikannya dengan harga tidak terlalu jauh dari petani, yang terakhir Rp 2.500 sampai Rp 2.700. PT Garam harus menyampaikan itu, untuk menstabilkan harga dan tidak mengganggu pendapatan petambak garam. Distribusi dari importasi PT Garam itu tidak sampai menjatuhkan harga petani," kata Brahmantya kepada KBR, Kamis (10/08/2017).

Brahmantya mengatakan, impor garam yang mencapai 75 ribu ton hanya untuk menstabilkan distribusi garam yang saat ini langka. Kata dia, importasi tersebut juga sudah mempertimbangkan permintaan pasar terhadap produksi garam petambak yang belum mencukupi.

Brahmantya berujar, pemerintah juga belum berencana mengimpor garam lagi karena saat ini sudah memasuki musim panen. Saat musim panen itulah, Brahmantya memastikan harga jual garam tak akan jatuh. Meski begitu, Brahmantya meminta petambak  memastikan kualitas garamnya dengan tak terburu-buru memanennya. Pasalnya, kandungan air sangat menentukan kualitas dan harga jual garam produksi petani.

Brahmantya berkata, sejak Maret hingga akhir Juli 2017. produksi garam memang hanya 6.200 ton. Namun, kata dia, pada pekan pertama Agustus, produksi 15 kabupaten sentra garam plus dari PT Garam mencapai 19 ribu ton. Kata dia, tren kenaikan produksi garam tersebut sudah terasa pada pekan pertama Agustus dan diperkirakan akan berlanjut. Pasalnya, pada saat itu, beberapa petambak garam, seperti di Cirebon, belum menggelar geoisolatornya.

Menurut dia, apabila sinar matahari tinggi dan cuaca stabil, produksi garam bisa melebihi puncak panen 2015 yang mencapai 2,8 juta ton, yang dari normalnya hanya 2 hingga 2,5 juta ton.

Sementara itu Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim Abdul Halim menilai penetapan harga jual garam impor tak akan efektif menjaga harga garam produksi petambak lokal tetap tinggi. Halim mengatakan, harga jual garam petambak akan langsung tertekan saat garam impor sampai di pelabuhan.

Kata dia,   mekanisme pasar  dengan sendirinya konsumen akan memilih garam impor. Sehingga, kata dia, langkah termanjur menjaga harga garam petambak tak jatuh adalah dengan memastikan pasokannya hanya untuk industri dan tak bocor ke konsumen rumah tangga.

"Saya kira tidak lagi relevan penerbitan acuan harga mengingat dampaknya praktis langsung akan diterima petambak saat garam itu didaratkan di pelabuhan. Yang penting dilakukan pemerintah adalah melakukan audit dan pengawasan super ketat ke mana garam impor itu akan diedarkan, sehingga garam rakyat tetap terserap oleh konsumen dalam negeri, maupun perusahaan pengolahan pangan, kaca, besi, dan seterusnya," kata Halim kepada KBR, Kamis (10/08/2017).

Halim mengatakan, importasi garam yang mencapai 75 ribu ton di saat musim panen, langsung sangat merugikan petani. Dia berkata, produksi garam di 44 kabupaten/kota sentra yang dimulai akhir Juli lalu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi garam nasional.

Halim menyebutkan, beberapa daerah sudah mulai panen garam, seperti Pamekasan, Cirebon, Rembang, dan Indramayu. Bahkan, produksi garam di Kabupaten Lombok Timur sudah sangat tinggi. Dia berkata, garam yang dipanen petambak hingga September mendatang tak akan dihargai dengan layak oleh konsumen apabila tersaingi garam impor.

Halim berujar, penetapan harga acuan garam juga tak akan banyak membantu harga garan petani tetap terjaga. Pasalnya, dengan tampilan garam impor yang lebih menarik otomatis akan membuat harga garam produksi petambak kalah bersaing dan jatuh. Menurutnya, akan lebih efektif apabila pemerintah memastikan garam tak bocor ke pasar rumah tangga serta mengaudit distribusi tersebut.

Dia berkata, produksi garam hingga akhir Juli 2017 sebanyak 6,2 ribu ton akan terus meningkat pada bulan-bulan berikutnya. Pasalnya, apabila lahan tambak berkualitas baik serta pengelolaan yang maksimal, produksi garamnya bisa mencapai 120 ton per hektare, dari normalnya 80 ribu ton per hektare dalam satu musim atau empat bulan. Dengan tren produksi tersebut, kata Halim, target produksi garam mencapai 3,2 juta ton tahun ini akan tercapai.

Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

MKD Mulai Bahas Penggantian Novanto Sebagai Ketua DPR

  • Polisi Kedepankan Masalah Korupsi Dibanding Laporan SPDP Terhadap KPK
  • Dijagokan Jadi Ketum Golkar, Ini Kata Airlangga
  • Lahan Disegel, Warga Pulau Pari Berencana Gelar Aksi di Depan Istana

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau