WNI Disandera, DPR: Kivlan Bahayakan Korban

"Kementerian Luar Negeri maupun di Kementerian Pertahanan, tidak pernah ada yang memberi kewenangan kepada Pak Kivlan Zein untuk bertindak dalam hal penyelamatan para sandera"

Kamis, 18 Agus 2016 21:59 WIB

Tentara dan polisi Filipina mengawal sandera dari Indonesia Mohammad Safyan setelah ia melarikan diri dari penculik Abu Sayyaf, di Jolo, Sulu di selatan Filipina, Rabu (17/8/2016). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- DPR berharap   di luar pemerintah supaya menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana terkait pembebasan WNI yang masih disandera kelompok Abu Sayyaf. Salah satu pihak luar yang dimaksudnya itu termasuk pensiunan TNI Kivlan Zein yang mengklaim sedang melakukan upaya pembebasan para sandera WNI.

Anggota DPR Komisi Pertahanan, Charles Honoris mengatakan kelompok penyandera sudah dalam kondisi terpojok, campur tangan itu dinilai   justru dapat membahayakan keselamatan para sandera. Menurut dia yang diperlukan  adalah lebih intensnya komunikasi antara Pemerintah Indonesia dengan Filipina untuk membawa WNI itu pulang ke tanah air.  

"Saya juga tidak tahu Pak Kivlan Zein ini bertindak dasarnya apa? Kewenangan dari siapa? Karena saya bertanya kepada teman-teman di Kementerian Luar Negeri maupun di Kementerian Pertahanan, tidak pernah ada yang memberi kewenangan kepada Pak Kivlan Zein untuk mengatasnamakan siapapun dalam bertindak dalam hal penyelamatan para sandera. Ini harus hati-hati sekali karena yang dilakukan Pak Kivlan Zein bisa membahayakan nyawa para sandera. Ini kan yang dilakukan membawa kelompok milisi MNLF untuk melakukan penyerbuan ke lokasi-lokasi para penyandera. Malah pemerintah kita kan melalui Ibu Menlu kemarin meminta agar pemerintah Filipina untuk melakukan gencatan senjata. Tetapi kalau adanya operasi penyerangan dilakukan oleh pihak lain tentunya bisa membahayakan para sandera. Ini sangat kontraproduktif dan harus segera dihentikan," ujar Charles kepada KBR, Kamis (18/8/2016).

Charles menambahkan, operasi pembebasan itu harusnya berada pada satu pintu melalui Crisis Center yang dibentuk pemerintah. Kata dia, Kivlan tidak bisa mengatasnamakan pemerintah RI ataupun delegasi Indonesia dalam tindakannya. Menurut dia, Kivlan melibatkan pasukan milisi MNLF yang juga bukan bagian pemerintah Filipina. Sehingga ia menganggap seolah Kivlan membawa tentara bayaran untuk melakukan operasinya.

Charles menyangsikan Kivlan sebagai pihak dibalik keberhasilan pembebasan sandera Abu Sayyaf sebelumnya.

"Banyak pihak yang mengklaim keberhasilan negosiasi di masa yang lalu, tapi ini kan klaim tidak ada yang bisa membuktikan sebetulnya sampai hari ini, siapa sebetulnya yang berhasil membebaskan sandera yang terakhir bisa bebas itu. Ini kan belum ada yang bisa membuktikan siapa? Tapi beberapa pihak mengklaim bahwa saya yang melakukan negosiasi hingga akhirnya bisa bebas," kata politikus PDI Perjuangan itu. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau