Anggota Brimob Polri berjaga di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Yosep pascaperistiwa teror bom di gereja tersebut di Medan, Sumatra Utara, Minggu (28/8). (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Menteri Koordinator Politik Hukum Dan Keamanan, Wiranto memastikan pelaku penyerangan di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara tidak terkait jaringan teroris  di Indonesia. Kata dia, dugaan sementara pelaku melakukan aksi penyerangan tersebut adalah karena kegemaran pelaku menyaksikan video-video ISIS di Youtube.

Selain itu kata Wiranto menyebut  kekaguman pelaku kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi.

"Yang bersangkutan ternyata memang  4 bersaudara dari keluarga  yang bapaknya pengacara dan kakaknya punya warnet nah hari-hari memang dia aktif di warnet itu, belajar, cari informasi. Nah, Kira-kira dari handphone yang disita aparat keamanan, si anak ini terobsesi dengan Abu Bakar Al Baghdadi dari ISIS karena di situ di ransel ditemukan I Love Al Baghdadi kemudian cuplikan-cuplikan dari hasil internetan tentang  ISIS," ujarnya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (29/08).

Selain itu kata dia, bukti lain pelaku tidak terkait dengan jaringan teroris manapun adalah temuan penyidik setelah melakukan penggeledahan kos-kosan pelaku. Temuan penyidik tersebut kata dia, ditemukan bahan-bahan perakit bom sederhana. Dia menambahkan, pelaku masih dalam kategori anak-anak karena usianya baru mencapai 17 tahun 10 bulan.

"Jadi hasil penyelidikan, ternyata yang bersangkutan anak yang belum usia 18 tahun, 18 kurang 2 bulan, namanya Ifan Armadi. Di tempat kos setelah digeledah aparat keamanan, juga ada bahan-bahn untuk merakit bom, ada kabel-kabel tembaga, ada travo, ada bubuk mesiu atau black powder tapi mungkin bukan mesiu karena di situ ada banyak batre NACL itu yang namanya untuk flaslight. Ada bohlam lampu yang jumlahnya cukup banyak 85 biji, ada juga di situ ditemukan beberapa bahan-bahan yang disinyalir merupakan satu prosesi untuk membuat bom tapi sangat sederhana. Karena bom yang di punggungnya itu ada 6 batangan dari pipa korden dipotong 6, dimasukin semen bubuk mesiu yang hitam itu dan korek api. Sehingga tidak meledak meledaknya juga seperti petasan," ucapnya.

Meski demikian kata dia, walau pelaku masih dalam kategori anak-anak, penegakan hukum akan tetap dilakukan. Hanya saja kata dia, pelaku hanya dikenakan sistem peradilan pidana anak. Dia juga menghimbau kepada seluruh orang tua untuk memantau aktifitas anaknya, terutama ketika beraktifitas di dunia maya. Dengan begitu kata dia, hal serupa bisa diantisipasi sejak awal.

"Dia terobsesi dari internet itu. Saya kira ini juga alert bagi orang tua bagaimana untuk bisa awasi anaknya sehingga tidak terus dicekoki berita di internet yang menyesatkan. Yang buat mereka terobesi pada satu ajaran, aliran yang memang nyata-nyata tidak diizinkan hidup di negeri ini. Kecuali aparat keamanan tentunya kita mohon nanti kepada DPR masyarakat bisa diberikanlah keleluasaan untuk menyelesaikan masalah seperti itu," tambahnya.

Sebelumnya, kemarin percobaan bom bunuh diri terjadi di gereja Katolik Statis Santa Yosep di Jl Dr Mansyur, Medan sekitar pukul 08.30 WIB. Selain itu, pelaku juga melakukan penyerangan terhadap pastor Albert S Pandingan (60) yang sedang berkhotbah di gereja tersebut. Berdasarkan data yang diterima kepolisian, pelaku bernama Ivan dan berasal dari Medan.

Kepolisian   Sumatera Utara menyebut pelaku bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosef, Medan, disuruh pihak lain. Hanya saja, kata Juru Bicara Polda Sumatera Utara, MP Nainggolan, pelaku belum mau mengaku siapa pihak yang menyuruhnya itu. 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!