Forum LGBTIQ penerima Suardi Tasrif Award dari AJI Indonesia. (Foto: AJI)



KBR, Jakarta- Forum LGBTIQ Indonesia menyerukan  jurnalis untuk menerapkan prinsip keberimbangan dalam  memberitakan isu LGBT, menyusul 155 berita negatif di media.

Hal itu dinyatakan usai forum tersebut menerima Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tasrif Award diberikan kepada pihak yang menyuarakan kebebasan dan hak-hak asasi.

Aktivis Arus Pelangi, Lini Zurlia, menyatakan selama ini sebagian jurnalis memberitakan kelompok mereka tanpa prinsip keberimbangan. Akibatnya, berita-berita yang dihasilkan pun bias dan membahayakan komunitas LGBT di akar rumput.

"Kepada jurnalis, teruslah menyuarakan suara-suara yang voiceless, yang tidak dapat didengar karena tidak bisa bersuara," ujar Lini usai perayaan HUT AJI di Jakarta, Jumat (26/8/2016) malam.

"Dan suarakanlah suara-suara itu dengan berimbang," tambahnya lagi.

Forum LGBTIQ mencatat, sejumlah pemberitaan media malah menyuarakan kebencian. Dalam pantauan media di 16 provinsi sepanjang Januari - Juli 2016 tercatat 155 konsolidasi kejadian dengan nuansa negatif. Sebanyak 62 diantaranya adalah ujaran kebencian, dan 38 pernyataan diskriminatif yang dilontarkan oleh aparatur Negara.

"Itu sangat berdampak di akar rumput," paparnya.

Data komunitas ini juga menunjukkan bahwa sebanyak 89.3% LGBT di Indonesia pernah mengalami kekerasan, baik psikis, fisik, ekonomi, dan seksual.

"Dari data tersebut, dapat kita lihat bahwa kebencian terhadap individu dan komunitas LGBT kian meningkat, kebencian ini dapat melahirkan kekerasan, tindakan diskriminasi bahkan kriminalisasi," tulis forum LGBTIQ dalam rilisnya.

Senada, Abhipraya Ardiansyah Muchtar, seorang transman, mendorong media agar berhenti menerbitkan berita yang menyudutkan.

"Semoga ke depannya makin banyak media yang netral dalam memberitakan LGBT," jelasnya.

Sementara itu, Vinaa, seorang transgender, mendorong masyarakat lebih terbuka terhadap kelompok tersebut.  Sebab, selama ini banyak LGBT yang tidak bisa menikmati pendidikan karena terhalang stigma.

"Memang tidak ada diskriminasi tertulis, tapi perlakuan mereka membuat kita tidak nyaman," tambahnya. 

Selain untuk Forum LGBTIQ, AJI juga memberikan Tasrif Award tahun ini kepada IPT 1965, yang dianggap membongkar stigma korban 1965. IPT 1965 adalah sidang rakyat internasional yang diprakarsai para advokat untuk mengumpulkan kesaksian peristiwa 1965. Dalam keputusan hakim, pemerintah Indonesia dinyatakan bersalah dan bertanggungjawab atas pembunuhan massal pada periode tersebut. 


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!