Ahok (tengah), perwakilan partai politik Nasdem, Hanura, dan Golkar, serta perwakilan dari Teman Ahok. Foto: Antara

KBR, Jakarta- Lembaga survei Manilka Research and Consulting melaporkan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menurun dari bulan Juni ke Agustus 2016. Managing Director Manilka, Herzaky Mahendra Putra mengatakan survei tersebut dilakukan dengan wawancara tatap muka di wilayah DKI Jakarta mulai tanggal 6 hingga 11 Agustus 2016. Survei melibatkan 440 responden dipilih secara acak bertingkat.  

"Dari tingkat popularitas memang mayoritas responden mengaku kenal dengan Gubernur Ahok. Namun dari sisi kesukaan, tingkat kesukaan responden terhadap Ahok mengalami penurunan yakni 62,5 persen pada bulan Juni menjadi 56,1 persen pada bulan Agustus. Tingkat keterpilihan Ahok juga mengalami penurunan dari 49,3 persen pada bulan Juni menjadi 43,6 persen pada Agustus 2016," jelas Herzaky Mahendra Putra di Jakarta, Minggu (21/8/2016).

Menurutnya ada beberapa faktor yang mengakibatkan elektabiitas Ahok menurun. Salah satunya yaitu soal Ahok yang memilih jalur partai politik ketimbang jalur indipenden.

"Ini fenomena baru di bulan Juni hingga Agustus, yaitu meningkatnya angka swing voters yang sebelumnya pada kisaran angka 18 hingga 20 persen, sekarang bisa mencapai 50 persen dari pemilih di Jakarta. Venomena ini bisa dimaknai dua, yang pertama banyaknya pendukung Ahok yang sakit hati dari jalur independen ke jalur parpol dan kondisi ini harusnya bisa dimanfaatkan oleh pesaingnya," tegasnya.

Baca: Ahok Teratas Survei Internal, DPP PDIP: Kami Belum Ambil Keputusan

Faktor lainnya adalah isu kasus korupsi yang berkaitan dengan Ahok dan orang-orang di lingkaran terdekatnya meski belum ada yang terbukti. Selain itu, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat juga menurun.

Masalah akses kesehatan yang mudah di bulan Juni sebesar 69,3 persen menjadi 67 persen di bulan Agustus. Sementara masalah sosial, tingkat kepuasan publik dari 45 persen pada bulan Juni menjadi 38,2 persen pada bulan Agustus.

"Pada bulan Juni, tingkat kepuasan publik mencapai 67,5 persen, sedangkan pada bulan Agustus tingkat kepuasan publik mencapai 60,7 persen. Meskipun tinggi, lumayan penurunannya mencapai hampir 7 persen. ada lima isu yang mendesak yang harus ditangani Pemprov DKI Jakarta ke depan. Isu pertama adalah harga sembako yang terjangkau 90 persen, pengangguran 88,9 persen, kemacetan 86,6 persen, pemberantasan korupsi 85,7 persen, dan kemiskinan 85,7 persen," tambahnya.

Managing Director Manilka, Herzaky Mahendra Putra menambahkan kemungkinan pasangan atau calon yang dapat menyaingi Ahok adalah Tri Rismaharini dan Sandiaga Uno. Berdasarkan simulasinya, jika Pilgub diikuti 2 pasangan calon yakni Ahok-Djarot S Hidayat vs Tri Rismaharini-Sandiaga S Uno terlihat perolehan keduanya sama besar yakni 20,9 persen. Sementara 45,2 persen responden lainnya masih ragu dan 13 persen lainnya tidak menjawab.

Baca juga: Tindak Politik Uang, Bawaslu Rancang Sistem Satu Atap

Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!