Istri mualim I Kapal Charles, Ismail, Dian Megawati Ahmad (tengah) berdialog dengan Direktorat Perlindungan WNI Kemenlu terkait penyanderaan tujuh kru Kapal Charles oleh kelompok bersenjata di selatan Filipina sejak 22 Juni 2016, Jakarta, Senin (1/8).



KBR, Jakarta - Satu WNI lagi berhasil lolos dari penyanderaan kelompok Abu Sayyaf. Kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, WNI tersebut bernama Ismail dan saat ini tengah berada di Sulu.

Pada sore hari ini, Ismail rencananya akan dibawa ke Zamboanga untuk dimintai keterangan dan menjalani pemeriksaan kesehatan. Tentang kabar ini, Retno mengaku telah melaporkannya kepada Presiden Joko Widodo.

"Dari tadi pagi kami melakukan komunikasi terus dengan teman-teman, dengan tim yang sudah di Zamboanga, dan diperoleh informasi bahwa Pak Ismail saat ini berada di Sulu, dan sore ini akan menuju ke Zamboanga. Jadi prosesnya juga akan melalui proses yang sama, dengan apa yang sudah dilakukan oleh tim KBRI Manila dan KJRI Davao terhadap Pak Sofyan," kata Retno di kompleks Istana, Kamis (18/8/2016).

Retno memastikan WNI yang berhasil lolos, termasuk Muhammad Sofyan, dalam keadaan sehat. Namun, ia belum bersedia menjelaskan kronologi lolosnya dua WNI tersebut.

"Keadaannya sehat, alhamdulillah, yang jelas Pak Sofyan dalam kondisi sehat," ujar dia.

Kata dia, saat ini perwakilan Indonesia di Filipina tengah mempersiapkan proses pemulangan agar dua WNI tersebut bisa segera bertemu dengan keluarga.

"Begitu informasi sudah done, pemeriksaan kesehatan sudah dilakukan maka sesegera mungkin, beliau akan dipulangkan ke Indonesia," tutur bekas Dubes Belanda ini.

Retno menjamin pemerintah terus berupaya melakukan pembebasan 9 WNI yang masih disandera. Kata dia, koordinasi juga tetap dilakukan dengan otoritas Filipina.

"Setiap waktu, saya memperoleh informasi dari lapangan mengenai kondisi-kondisi para sandera WNI," ucapnya.

MNLF

Pensiunan TNI Kivlan Zein mengaku sudah mengetahui keberadaan tiga WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Kata Kivlan yang saat dihubungi berada di Mindanao, ketiga sandera saat ini berada kota Lu'u, Provinsi Sulu, Filipina.

Sebelumnya Kivlan  pernah menjadi negosiator pembebasan kelompok Abu Sayyaf. Kata Kivlan, rencananya, pembebasan sandera akan dilakukan malam ini atau besok waktu setempat. Langkah pembebasan akan dilakukan bersama pasukan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Sementara terkait dua WNI lainnya yang masih di sandera kelompok Abu Sayyaf.

"Tiga orang sandera sekarang sudah diketahui kondisinya. Tiga orang ada di kota Lu'u. Malam ini atau besok akan diambil, karena disimpan
Al Habsyi (Misaya) kepada sipil. Kita sudah dapat kontaknya, dan sudah datang menemui kita," kata Kivlan kepada KBR lewat sambungan telepon, Kamis (18/8/2016).

Terkait kondisi dua sandera yang berhasil lolos, yakni Sofyan dan Ismail, saat ini keduanya sudah berada di atase pertahanan Filipina di kota Zamboanga.

"Sofyan diserahkan orang Moro ke kepala desa, dari kepala desa Sulu diserahkan kepada polisi, dari polisi kemudian dibawa dengan helikopter ke Zamboanga. Baru setelah itu Ismail jam 6 sore tadi diterima ke FIlipina dan hari ini dibawa ke atase pertahanan. Mereka berdua akan diinapkan di sana sambil menunggu yang lain," ujar Kivlan yang bernisiatif membantu pembebasan sandera.

Kivlan memastikan tidak ada ancaman pembunuhan terhadap sandera. Dia mengklaim penculik kelompok Abu Sayyaf sadar dan akan mengembalikan semua sandera.

"Semua sandera sehat, tidak ada ancaman pembunuhan dan apa-apa. Kita sudah berunding dengan Alhabsy, dan mereka mau damai menyerahkan," katanya.

Dia juga menyebut tidak ada satupun tuntutan yang dikabulkan pemerintah Filipina maupun Indonesia.

"Mereka pertama kali minta tebusan 300 juta, turun 150 juta, kita tidak mau, mereka minta sedekah, kita tidak mau. Mereka mau diampuni kita mau. Kita tidak mau diperas," pungkasnya.

Sebelumnya 7 kru Kapal Charles  disandera oleh kelompok bersenjata di selatan Filipina sejak 22 Juni 2016. Kelompok Abu Sayyaf juga disebut bertanggungjawab atas penculikan 3 WNI awak kapal Malaysia LLD113/5/F  di perairan wilayah Felda Sahabat, Lahat Datu, Malaysia, 9 Juli.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!