Salman Anggota Kelompok Santoso Menyerahkan Diri

"Saat ini telah berada di Polda bersama penyidik baik dari Polda maupun Densus 88 untuk diselidik perannya dalam kegiatan terorisme di wilayah Sulawesi Tengah ini."

Senin, 08 Agus 2016 18:24 WIB

Taufik Hidayat alis Salman, DPO angggota kelompok Santoso menyerahkan diri. (Foto: KBR/Aldrim T.)


KBR, Poso- Satgas Tinombala menahan 1 anggota kelompok Santoso di wilayah Poso, Sulawesi Tengah. Satu dpo (daftar pencarian orang)    bernama Taufik Hidayat alias Salman ini ditangkap saat turun gunung di wilayah Tamanjeka, desa Masani, kecamatan Poso Pesisir untuk menyerahkan diri kepada Satgas Operasi  Tinombala.

Kepala kepolisian Sulawesi Tengah  Rudi Sufahriadi selaku penanggung jawab komando operasi tinombala 2016 menerangkan, saat ini   masih memeriksa Taufik   anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur   yang menyerahkan diri pada Minggu 7 agustus 2016 kemarin.

Taufik Hidayat alias Salman diketahui telah dibawa ke Polda Sulawesi Tengah oleh tim Densus 88 anti teror untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut terkait keterlibatan dirinya bergabung dengan kelompok Santoso.   Salman  menyerahkan diri di sungai kampung Tamanjeka, desa Masani kecamatan Poso Pesisir kepada anggota gabungan densus 88 Mabes Polri dan Anggota Polmas desa Masani di sebuah Pondok.

Taufik Hidayat alias Salman alias Opik diketahui merupakan sepupu dari Samil alias Nunung salah seorang dpo yang telah lebih dulu menyerah 16 juni 2016.

"Telah turun gunung saudara Taufik Hidayat alias Salman untuk menghadapi Proses hukum dalam operasi Tinombala ini. Artinya saat ini telah berada di Polda (Sulawesi Tengah) bersama penyidik baik dari Polda maupun Densus 88 untuk diselidik perannya dalam kegiatan terorisme di wilayah Sulawesi Tengah ini." Jelas Rudi Sufahriadi, Senin (08/08).

Penyerahan diri Taufik Hidayat alias Salman ini membuat jumlah anggota kelompok Santoso yang masih diburu dalam operasi Tinombala 2016 tersisa 16 orang, dari enam belas orang buron kelompok santoso itu dua diantaranya perempuan yang merupakan istri Ali Kalora dan istri Basri. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.