Ilustrasi. (Foto: reskrimum.metro.polri.go.id)



KBR, Jakarta - Kepolisian Jawa Tengah mengaku kesulitan mengidentifikasi pelaku perusakan atau vandalisme patung keagamaan di dua gereja yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Perusakan patung keagamaan itu terjadi di Gereja Katolik Santo Yusuf Pekerja di Klaten, Jawa Tengah serta Goa Maria Sendang Sriningsih di Sleman, Yogyakarta, pada Selasa (9/8/2016). Pelaku bahkan membuang patung Bunda Maria ke sungai.

Baca: Dalam Sehari, Dua Gereja di Jateng-DIY Diserang, Patung Maria Dibuang ke Sungai

Juru bicara Kepolisian Jawa Tengah, A. Liliek Darmanto beralasan, tidak ada saksi dalam kedua peristiwa tersebut baik dari warga dan gereja.

Meski begitu, polisi terus melakukan pengejaran terhadap pelaku dengan bekerjasama dengan Kepolisian Yogyakarta.

"Pada saat itu petugas jaga tidak mengetahui kejadiannya, kemudian saksi tidak ada yang melihat, kemudian CCTV juga tidak ada. Namun Kapolda sudah memerintahkan untuk secepatnya mengungkap kasus itu," kata Liliek saat dihubungi KBR, Kamis (11/8/2016).

Liliek Darmanto menambahkan polisi sudah berkoordinasi dengan pihak intelijen untuk mencari pelaku. Selain itu, polisi juga memperketat penjagaan di wilayah Jawa tengah.

"Kita perketat patroli di wilayah Jawa Tengah. Siapa tahu dia melakukan di tempat lain, kemudian tertangkap dengan kasus yang sama, jadi bisa dikembangkan. Apakah dia pelaku yang sama atau tidak," imbuhnya.

Baca: Perusakan Patung Jalan Salib, Bupati Perintahkan Cegah Konflik

Koalisi masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) mendesak kepolisian segera menangkap pelaku perusakan simbol agama di dua gereja yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Koordinator ANBTI Agnes Dwi Rusjiati khawatir, peristiwa ini akan memicu rentetan pengrusakan lain, apabila polisi tak menindak tegas pelaku. Menurutnya wilayah perbatasan menjadi kawasan yang rawan disulut konflik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun ANBTI dari warga sekitar, beberapa hari sebelum pengrusakan, warga menjumpai sejumlah orang tak dikenal hilir-mudik di sekitar lokasi kejadian.

Baca: ANBTI: Tanpa Ketegasan Polisi, Perusakan Simbol Agama Bisa Merembet ke Tempat Lain

Editor: Agus Luqman
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!