Patung Yesus dan Bunda Maria yang dirusak di Klaten, Jawa Tengah. (Sumber: Sejuk)



KBR, Jakarta- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendesak pemerintah untuk mengantisipasi adanya konflik pasca perusakan patung gereja di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dua gereja itu adalah Gereja Katholik Santo Yusuf Pekerja di Klaten, Jawa Tengah dan Goa Maria Sendang Sriningsih, Sleman, Yogyakarta.

"Soal agama ini lagi-lagi pemerintah harus lakukan antisipasi ya untuk memastikan jaminan keyakinan dan beribadah. Jaminan, negara tidak bisa menghindar rakyat Indonesia untuk menjalankan ibadah. Salah satu peristiwa di Klaten itu juga sebenarnya salah satu kelalaian dari pihak-pihak yang diberi tugas untuk menjaga," kata Natalius Pigai di Kantor Komnas HAM, Kamis (11/08/2016).

Kata dia, pemerintah berwenang untuk menjaga keamanan masyarakat dalam beribadah.

"Negara kita ini kan negara yang plural, negara yang menghormati satu agama dengan agama yang lain. Tugas pemerintah membuka ruang setiap orang untuk menjalankan keyakinannya," ujar Pigai.

Selasa lalu, dua gereja di Klaten dan Sleman dirusak orang tidak dikenal. Di Klaten pelaku merusak patung Maria dan Yesus. Pelaku mematahkan lengan patung Yesus dan membuang patung Bunda Maria ke sungai dekat gereja. Sedangkan di Goa Maria Sleman pelaku merusak dua buah patung jalan salib.

Pengurus gereja telah melaporkan perusakan tersebut kepada Kepolisian Jawa Tengah. Meski begitu, polisi masih kesulitan mengungkap identitas pelaku perusakan. Polisi beralasan, tidak ada saksi dalam dua peristiwa tersebut. Saat ini Kepolisian masih menyelidiki kasus tersebut.


Pelaku Bukan Warga Sekitar

Pelaku perusakan patung di  Gua Maria Sendang Sriningsih, Sleman, diduga sekelompok   dengan penggugat IMB Gua Maria Giri Wening. Dugaan tersebut datang dari warga sekitar Sendang Sriningsih yang mengaku melihat adanya gerak gerik mencurigakan dari sejumlah pendatang ke daerah itu.


“Ada salah satu warga yang melihat bahwa anggota ormas, bisa dikatakan anggota ormas karena berpenampilan layaknya mereka yang sebelumnya datang ke rumah Saya, mereka seperti survey lokasi. Mengitari daerah Saya, mengitari rumah Saya, kami juga tidak tahu apakah itu memantau keluarga Saya atau memantau yang lain, tidak tahu,” ujar Eko, salah seorang warga sekitar Gua Maria Sendang Sriningsih.


Eko  merupakan anak dari pemilik IMB Gua Maria Giri Wening, Gunung Kidul, yang pada pertengahan Juli kemarin sempat digugat. Tak lama setelah penggugatan itu terjadi, Eko mengaku bahwa rumahnya didatangi oleh sejumlah anggota ormas penggugat, yang kemudian berlanjut pada pengakuan warga yang melihat gerak-gerik mencurigakan tersebut.


“Warga sebenarnya resah, soalnya baru pertama kali ini ada perusakan seperti itu. Karena sebelumnya pun hubungan antar warga itu baik, baik umat muslim maupun umat kristen,” jelas Eko.


Masalah penggugatan IMB Gua Maria Giri Wening  sudah selesai, pasca pihak penggugat mencabut gugatannya pada 28 Juli lalu. Namun, Eko menilai bahwa perusakan patung keagamaan di daerahnya ini ada hubungannya dengan gugatan Gua Maria Giri Wening, terlebih kasus yang sama juga terjadi pada hari yang sama di Klaten.


Faktor hubungan baik yang terjalin antar warga beragama membuat Eko berharap kasus ini tidak menyebabkan perpecahan. Ia pun meyakini bahwa kasus ini merupakan upaya oknum-oknum luar yang ingin memperkeruh suasana yang sebelumnya rukun.


“Saya berharap semoga ini tidak menjadi alasan hubungan antar warga itu pecah. Karena hubungan antar warga muslim dengan kristen itu sudah terjalin baik sejak dulu. Masalah-masalah ini timbul, saya rasa malah karena masuknya orang-orang baru yang akhirnya menggantikan budaya lama, dan membuat  hubungan kami tidak harmonis,” harap Eko.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!