Panglima TNI: Keberadaan Kivlan Zein Mewakili TB Charles

Panglima TNI, Gatot Nurmantyo menyebut posisi pensiunan TNI AD, Kivlan Zein dalam upaya pembebasan sandera kelompok Abu Sayyaf bukan mewakili pemerintah.

Jumat, 19 Agus 2016 12:57 WIB

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) didampingi Kepala Staf TNI AD Jenderal Mulyono (tengah) dan Ketua Dewan Pembina TBSC Letjen TNI (Purn) Tiopan Bernhard Silalahi (kanan) melihat proses

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta - Panglima TNI, Gatot Nurmantyo menyebut posisi pensiunan TNI AD, Kivlan Zein dalam upaya pembebasan sandera kelompok Abu Sayyaf bukan mewakili pemerintah. Kata dia, kehadiran Kivlan di sana atasnama perusahaan yaitu TB Charles.

Namun begitu, Gatot mengklaim, kehadiran Kivlan tak berdampak apapun terhadap kerjasama pemerintah Indonesia dengan Filipina.

"Lha itu Pak Kivlan kan atas nama perusahaan dan sendiri kan dia kan. (Dampaknya?) Ndak ada, (Kivlan bekerjasama dengan MLNF?) Ya tanya sama pemerintah Filipin ya," kata Gatot Nurmantyo di Mabes TNI, Jakarta Timur, Jumat (19/08/2016).

Baca juga: Kivlan, Bantuan Tentara Moro Bebaskan Sandera Abu Sayyaf, Tanpa Imbalan

Saat ini, Kivlan berada di Filipina untuk membebaskan para sandera. Kivlan mengklaim, pembebasan kali ini atas inisiatif pribadi dengan bantuan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF).

Dia mengatakan kemungkinan upaya pembebasan para sandera akan dilakukan hari ini. Meski begitu, ia belum bisa memastikan kapan tepatnya akan dilakukan.

Sementara itu, anggota Komisi Pertahanan Charles Honoris meminta pihak di luar pemerintah termasuk Kivlan agar menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Kata Charles, tindakan Kivlan bisa membahayakan nyawa para sandera.

Terkait kondisi dua sandera yang kabur, yaitu Muhamad Sofyan dan Ismail, terakhir berada di atase pertahanan Filipina di kota Zamboanga.

Muhammad Sofyan dan Ismail merupakan bagian dari tujuh ABK TB Charles yang disandera sejak akhir Juni lalu. Penyandera dilaporkan meminta tebusan sebesar 20 juta ringgit atau sekitar Rp60 miliar, jika tidak maka penyandera akan memenggal kepala para awak kapal.

Selain ketujuh anak buah kapal itu, ada pula tiga WNI yang disandera sejak 9 Juli. Mereka adalah ABK kapal pukat tunda LD/114/5S milik Chia Tong Lim, berbendera Malaysia.

Penyanderaan WNI ini merupakan yang ketiga kalinya sepanjang 2016 ini dan telah menimpa 24 WNI. Dengan lolosnya Muhammad Sofyan dan Ismail, berarti ada delapan WNI yang masih disandera.



Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.