Ilustrasi: Peserta selamatan ada yang menggunakan peci dan blangkon pada sebuah selamatan di salah satu rumah penduduk Di Desa Kalikudi, Cilacap. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)


KBR, Cilacap– Layaknya desa-desa di wilayah Jawa, masyarakat Desa Kalikudi Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah memiliki kebiasan selamatan atau doa bersama untuk beragam keperluan dan ritual keagamaan. Uniknya, di desa ini, doa dilakukan dua cara. Ini termasuk acara sedekah bumi yang dilakukan pada bulan 'Apit' dalam kalender Jawa ini.

Kayim (aparatur) Desa Kalikudi, Kadas mengatakan doa dilakukan dengan cara kejawen atau berbahasa jawa dan dilakukan dengan cara Islam atau berbahasa arab. Kata dia, hal ini untuk merawat toleransi yang sudah terbangun ratusan tahun. Doa berbahasa jawa dilakukan oleh Kyai Kunci atau tokoh adat setempat, sedangkan dia sendiri memimpin doa dengan cara Islam.

Kayim Kadas menjelaskan, doa dengan cara ini dilakukan karena peserta selamatan terdiri dari lintas kepercayaan. Ada yang Islam, kepercayaan dan terkadang hadir agama lain.

Menurutnya, kesediaannya untuk berdoa bergantian dengan tokoh agama lain merupakan salah satu janjinya saat dilantik menjadi kayim untuk melayani seluruh golongan masyarakat.

"Dalam artian ‘keguyuban’ masih kompak di masyarakat adat dan pasemuan. Jadi orang adat kepeduliannya itu memang besar. Buat contoh itu memang bagus. Dan juga, ini masalah selamatan, kalau kayim belum hadir, selamatan belum bubar (selesai). Kita ini sudah terikat, dalam arti perjanjian selaku pamong desa, kayim, untuk mengabdi kepada masyarakat. Sedangkan masyarakat sini memang sangat membutuhkan." Tutur Kayim (aparatur) Desa Kalikudi, Kadas .

Sementara, Tetua adat Paguyuban Resik Kubur Rasa Sejati (PRKRS) Kunthang Sunardi mengemukakan Kalikudi merupakan miniatur Indonesia dalam skala kecil. Di Desa ini, hampir seluruh penganut agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia ada.

Ia menilai doa dengan dua cara adalah cara efektif untuk merawat toleransi dan keterbukaan antar umat beragama.

Cara berdoa ini menurut dia sudah diajarkan sejak puluhan tahun lampau dan dijaga hingga sekarang. Dia mengklaim, tidak pernah ada persoalan di Desa Kalikudi karena isu SARA.

 
Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!