Mabes Polri: Pelaku Bom Gereja Katolik Medan Diiming-imingi Uang

Kepolisian menyebut motif pelaku penyerangan di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara, karena diimingi-imingi uang.

Senin, 29 Agus 2016 12:42 WIB

Personel kepolisian berjaga di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Yosep pasca peristiwa teror bom di gereja tersebut di Medan, Sumatera Utara, Senin (29/8). Foto: ANTARA



KBR, Jakarta - Kepolisian menyebut motif pelaku penyerangan di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara, karena diimingi-imingi uang. Juru bicara Polri, Agus Rianto mengatakan, pelaku berinisial IAH diiming-imingi sejumlah uang oleh seseorang untuk melakukan serangan tersebut.

"Ini terkait iming-iming anggaran, iming-iming dana. Kalau kamu mau uang lakukan ini. Akhirnya (pelaku mengatakan-red) oke saya mau, saya akan lakukan. Uangnya belum diterima tapi yang bersangkutan sudah terkena masalah," kata Agus di Mabes Polri, Senin (29/08/16).

Namun, Agus menuturkan, pelaku belum menjelaskan siapa orang yang menyuruh aksi serangan tersebut. Hingga saat ini kepolisian masih menyelidiki siapa dalang yang menyuruh pelaku.

"Orangnya ini yang kita cari. Sementara ini fokus kita kepada yang bersangkutan," ujarnya.

Kepolisian juga belum bisa memastikan apakah serangan ini dilakukan perorangan atau terkait jaringan teroris. Kepolisian juga masih menyelidiki kemungkinan pelaku terkait dengan ISIS setelah menemukan simbol kelompok tersebut di dalam dompetnya.

"Penyidik terus menelusuri kemungkinan ada keterlibatan pihak lain sesuai info yang diberikan tersangka," kata Agus.

Menurut Agus, pelaku serangan di gereja Katolik di Medan mengaku terinspirasi serangan teror di Prancis. Pelaku menyamar sebagai jemaat dan ikut misa di Gereja Santo Yosep, Medan, sebelum menyalakan benda mirip petasan atau bom sebelum menyerang pastor Albert Pandiangan dengan pisau, minggu (28/09).

"Pelaku terinspirasi dari menonton TV dan siaran media saat terjadi penyerangan di kafe Prancis," ujar Agus.

Tersangka pelaku penyerangan, IAH, yang berusia sekitar 18 tahun adalah lulusan sebuah sekolah menengah atas di kota Medan. IAH dikenakan Undang Teroris nomor 15 Tahun 2003 dan Undang-undang Darurat nomor 12 Tahun 1951 tentang senjata api dan bahan peledak.

Baca juga: Polda Sumut: Pelaku Bom Bunuh Diri Gereja di Medan Suruhan Pihak Lain



Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi