Suratmi eks Gafatar. (Foto: Sejuk)

KBR, Jakarta- Suratmi dan suaminya Sutarno, kini menjadi warga tanpa identitas. Pasalnya, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) mereka disita Kepala Desa Mekarjati, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. Penyitaan  hanya karena pernah bergabung dengan kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

"Sekarang saya hanya pegang fotokopi KTP, saya nggak tahu kalau itu hilang akan bagaimana," katanya.

Perempuan berusia 44 tahun ini, tak pernah menyangka bakal diusir dari tanah yang ia dan suaminya garap di Singkawang, Kalimantan Barat, sejak November tahun 2015 lalu. Mulanya, ia tertarik bergabung dengan Gafatar karena sejalan dengan keinginan sang suami yang merupakan petani.

"Di Purwakarta sulit bertani," ucapnya singkat.

Suratmi dan suaminya, berasal dari Purwakarta kemudian pindah dan menetap di Indramayu selama 10 tahun.

Kebetulan pula ia mendengar kabar, di Singkawang ada banyak lahan terbengkalai. Warganya pun ogah bertani.

"Di sana 2,6 bulan menanam padi, cabai, singkong. Tapi mendadak ada kejadian itu (pengusiran-red)."

Pasca kejadian itu, suaminya lantas dipanggil ke kecamatan dan walikota untuk dipulangkan. Di situ pula, mereka dituding pengikut ajaran sesat dan menyebarkannya.

"Padahal kami di sana tak pernah dan hanya mengajarkan bercocok tanam," imbuh Suratmi. Hingga kemudian pada 22 Januari, ia, suami, dan anak lelakinya yang berusia tiga tahun, dipaksa pulang.

Mereka sempat berpindah-pindah tempat, mulai dari menginap selama dua hari di Singkawang dan empat hari di Pontianak. Barulah esoknya, dengan kapal perang tiba di Jakarta.

"Di kapal kalau tak salah tiga hari tiga malam," katanya sembari mengingat.

Di Jakarta, Suratmi sekeluarga diboyong ke Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi. Malangnya, karena   tengah hamil tiga bulan, Suratmipun   keguguran.

"Kondisi saya saat itu mengandung. Di sana (pondok gede-red) kami ditempatkan di lantai 2 harus naik turun tangga. Di kapal pun ada goncangan. Jadinya sering sakit perut," kenang Suratmi.

Meski sempat diboyong ke puskesmas dan rumah sakit, tapi ia tak mendapat penanganan yang memadai.

Hingga kemudian, mereka dipulangkan ke Indramayu. Di situ, Suratmi sekeluarga tak punya lagi tempat tinggal karena habis dijual untuk hijrah ke Kalimantan. Selama tiga hari tinggal di kantor kelurahan, mereka tak mendapat makan.

"Saya akhirnya dapat kontrakan di Desa Mekarjati, tapi rupanya kami tak diterima."

Terusir dari desa itu, Suratmi sekeluarga diberi surat pindah akan tetap KTP dan KK disita si kepala desa.

"Katanya kami sudah tidak diakui di sana, jadi diambil kades," katanya.

Sekarang, Suratmi bersama suami dan anak sulungnya tinggal di Subang. Dengan tanpa kartu identitas --KTP, makin menyulitkan hidup mereka. Suaminya, menganggur sementara dirinya hanya bisa berjualan mainan di pinggiran jalan. 

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!